google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Tensi Iran-AS Memanas, IHSG Terpuruk di Tengah Sikap Wait and See Investor

Advertisement

Tensi Iran-AS Memanas, IHSG Terpuruk di Tengah Sikap Wait and See Investor

26 Februari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Ketidakpastian geopolitik global kembali menekan pasar modal dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah signifikan sebesar 1,04% ke level 8.235,362 pada perdagangan Kamis (26/2).


Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana perundingan Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung hari ini. Kondisi pasar semakin tertekan menyusul laporan penambahan jumlah pasukan AS yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah.


Situasi genting tersebut memicu sikap hati-hati di kalangan investor global. Tercermin dari pergerakan bursa saham di Asia yang cenderung bergerak menyamping (sideways) dengan tren melemah.


"Minimnya sentimen pasar positif di tengah potensi memburuknya tensi geopolitik membuat pelaku pasar lebih memilih berhati-hati dalam bertransaksi," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), di Medan.


Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dalam rentang 8.139 hingga 8.358. Koreksi indeks kali ini didorong oleh pelemahan sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps).


Beberapa emiten yang menjadi pemberat langkah IHSG di antaranya adalah BUMI, BBCA, BBRI, ANTM, ADRO, hingga BBNI. Menariknya, pelemahan IHSG terjadi di tengah momentum penguatan mata uang Garuda. Rupiah ditutup menguat ke level Rp16.750 per dolar AS.


Gunawam menilai penguatan ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Yakni memburuknya kinerja USD Index yang berada di bawah tekanan.


Sementara itu di pasar komoditas, harga emas dunia terpantau bergerak stabil cenderung mendatar di level $5.182 per ons troy, atau setara dengan kisaran Rp2,8 juta per gram.

Stagnansi harga logam mulia ini menurut Gunawan mencerminkan sikap wait and see yang kuat dari para spekulan dan investor.


Emas diperkirakannya akan terus bergerak sideways hingga ada kejelasan atau hasil konkret dari pertemuan antara Iran dan AS. Pasar memprediksi harga komoditas baru akan bergerak atraktif setelah adanya kepastian dari hasil perundingan tersebut.