Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Rupiah tetap menguat meski neraca pembayaran Indonesia mencatat defisit sebesar US$7,5 miliar. Data tersebut dirilis di tengah tekanan eksternal yang membebani pasar keuangan domestik.
"(Padahal) Neraca pembayaran defisit US$7,5 miliar berpotensi menjadi sentimen negatif, namun rupiah masih relatif aman dan tidak terpengaruh signifikan," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, di Medan, Jumat (20/2).
Defisit neraca pembayaran sebesar US$7,5 miliar menjadi salah satu data utama yang dirilis hari ini. Realisasi tersebut dinilai berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik.
Namun rupiah tetap menunjukkan kinerja relatif stabil hingga akhir sesi perdagangan. Mata uang Garuda tidak mengalami tekanan lanjutan pascarilis data neraca pembayaran.
Rupiah sempat melemah hingga ke level 16.880 per dolar AS selama sesi perdagangan Jumat. Namun kemudian berbalik arah dan menguat di tengah pergerakan IHSG yang sempat masuk zona hijau.
Sementara itu IHSG ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan ini setelah sempat bergerak di dua zona berbeda. Indeks turun tipis 0,03% ke level 8.271,76.
Sejumlah emiten seperti BUMI, ANTM, ASII, HMSP hingga TINS memicu penurunan IHSG pada sesi perdagangan hari ini.
Pelemahan IHSG lebih dipicu tekanan dari bursa Asia serta tekanan terhadap rupiah di awal sesi. Tekanan eksternal disebut lebih membebani dibanding sentimen positif dari penguatan rupiah.
Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan Jumat tercatat menguat ke level US$5.031 per ons troy atau sekitar Rp2,74 juta per gram. Penguatan terjadi di tengah memanasnya situasi politik antara Iran dan Amerika Serikat.
Kinerja harga emas berpeluang melanjutkan penguatan jika tensi geopolitik meningkat. Pergerakan emas menjadi salah satu indikator yang diamati pelaku pasar pada perdagangan akhir pekan ini.
