ANTARAsatu.com | KAMPAR - PGN Gagas bersiap menancapkan posisi sebagai pemain kunci dalam rantai pasok BioCNG nasional. Anak usaha PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk itu ditetapkan menjadi offtaker utama BioCNG dari fasilitas produksi yang dikembangkan KIS Group bersama AEP Group di Riau.
Langkah ini menandai masuknya PGN Gagas lebih dalam ke pasar gas rendah karbon berbasis limbah kelapa sawit. Proyek tersebut resmi dimulai melalui seremoni pembangunan pabrik BioCNG di Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau, pada Jumat (6/2)..
Fasilitas ini dirancang memanfaatkan metana dari pengolahan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) yang dihasilkan PT Bina Pitri Jaya, entitas usaha AEP Group. Limbah yang selama ini menjadi beban lingkungan itu diarahkan menjadi sumber energi alternatif.
Pabrik BioCNG tersebut dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal I 2027. Setelah beroperasi penuh, fasilitas ini ditargetkan memproduksi BioCNG hingga 142.450 MMBTU per tahun.
Produksi itu diproyeksikan mampu menekan emisi gas rumah kaca sampai 70.085 ton CO2 per tahun. PGN memandang BioCNG sebagai jawaban atas tantangan pasokan gas bumi, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa.
Skema beyond pipeline yang selama ini dijalankan PGN Gagas melalui CNG dinilai relevan untuk menyerap produk BioCNG dari fasilitas tersebut. Infrastruktur distribusi yang sudah dimiliki menjadi modal awal untuk mempercepat penetrasi pasar.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Mirza Mahendra menyebut optimalisasi BioCNG sebagai langkah strategis yang fleksibel dalam memenuhi kebutuhan gas bumi lintas sektor.
“Optimasi BioCNG merupakan langkah yang strategis dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan gas bumi di berbagai sektor," ujarnya.
PGN bersama Gagas berkomitmen untuk terus menyediakan energi yang lebih bersih dan mendorong integrasi gas bumi dengan energi baru terbarukan dalam ekosistem energi nasional. BioCNG menjadi langkah strategis PGN dalam memperluas portofolio gas rendah karbon sekaligus memperkuat fleksibilitas pasokan beyond pipeline dalam mendukung percepatan transisi energi.
PGN Gagas juga menegaskan kesiapan operasionalnya untuk menyerap dan menyalurkan BioCNG ke pelanggan. Pengalaman dalam layanan CNG menjadi fondasi untuk memperluas distribusi BioCNG ke segmen industri dan pengguna akhir yang belum terhubung jaringan pipa gas.
Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan menyatakan kapabilitas distribusi CNG akan tetap dioptimalkan dalam skema baru ini. BioCNG, menurut dia, membuka peluang nilai tambah bagi pertumbuhan industri hijau, terutama di daerah dengan keterbatasan infrastruktur gas pipa.
Dari sisi pengembang, KIS Group memposisikan proyek ini sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan. Pengolahan limbah sawit menjadi BioCNG dipandang tidak hanya menyasar aspek lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi wilayah sekitar.
"Model bisnis berbasis limbah mampu mempertemukan kepentingan industri dan target pengurangan emisi," ungkap Founder dan CEO KIS Group, K.R. Raghunath.
Dia menyebut kolaborasi dengan AEP Group dan PGN Gagas sebagai bukti bahwa proyek energi terbarukan skala komersial dapat diwujudkan di Indonesia. Proyek BioCNG di Riau menjadi contoh konkret integrasi industri energi, pengelolaan limbah dan agenda transisi energi nasional.
Dengan target produksi ratusan ribu MMBTU per tahun, BioCNG dari limbah sawit bukan lagi proyek eksperimental. Bagi PGN Gagas, langkah ini menjadi pintu masuk untuk menguasai ceruk pasar gas rendah karbon, sekaligus memperkuat peran sebagai penyedia energi di luar jaringan pipa konvensional.
