google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Dunia Geger, Media Asing Soroti Tol Indonesia Jadi Landasan Darurat Jet Tempur

Advertisement

Dunia Geger, Media Asing Soroti Tol Indonesia Jadi Landasan Darurat Jet Tempur

15 Februari 2026

 


ANTARAsatu.com | JAKARTA - Dunia geger setelah media asing menyoroti uji coba penggunaan jalan tol di Indonesia sebagai landasan jet tempur. Sorotan muncul setelah TNI Angkatan Udara menguji pendaratan dan lepas landas pesawat di ruas Tol Trans-Sumatra pada Rabu (11/2).


Agence France-Presse melaporkan uji coba tersebut bertujuan memperkuat kesiapan pertahanan melalui landasan cadangan. Uji coba melibatkan dua pesawat yang beroperasi di Sumatra barat.


“Saya ingin menekankan bahwa penggunaan jalan tol sebagai landasan alternatif untuk jet tempur bersifat sementara dan situasional.”


Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto menyebut langkah itu tonggak kesiapan pertahanan jika pangkalan utama tidak dapat digunakan. AFP mengaitkan kebijakan itu dengan modernisasi militer di bawah Prabowo Subianto, termasuk pembelian 42 jet tempur Rafale senilai 8,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp136 triliun.


Media aviasi AeroTime melaporkan pesawat F-16 dan EMB-314 Super Tucano melakukan uji coba di ruas Terpeka Tol Trans-Sumatra di Lampung. Jalan tol itu memiliki lebar 24 meter dan panjang sekitar 3.000 meter, lebih sempit dibanding landasan bandara standar 45 hingga 60 meter.


Kepala Staf TNI Angkatan Udara Mohamad Tonny Harjono menyatakan setiap provinsi diharapkan memiliki minimal satu ruas tol sebagai landasan darurat tanpa tenggat waktu. AeroTime menyebut praktik serupa pernah dilakukan di Amerika Serikat, Finlandia, dan Swedia.


CNN menilai pendekatan itu menjadi alternatif kapal induk dengan biaya lebih rendah sepanjang 3.100 mil atau sekitar 5.000 kilometer dengan lebih dari 6.000 pulau berpenghuni. Peneliti S Rajaratnam School of International Studies Collin Koh menyebut pendekatan tersebut lebih masuk akal secara strategis dan operasional serta memperluas fleksibilitas pesawat yang tidak dapat beroperasi dari kapal induk.