Suasana puncak Gunung Bulusaraung.
GUNUNG Bulusaraung membentuk lanskap karst terjal di perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, yang dikenal rawan kabut tebal dan hujan mendadak. Karakter geografis ini menjadikan kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung sebagai salah satu titik cuaca paling tidak stabil di wilayah tersebut.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Makassar menunjukkan jarak pandang di puncak Bulusaraung kerap turun hingga 5–10 meter saat hujan dan kabut turun bersamaan. Angin kencang yang datang tiba-tiba memperparah kondisi di lereng dan punggungan gunung.
Ketidakstabilan cuaca itu tidak hanya menyulitkan aktivitas darat, tetapi juga membentuk risiko serius bagi penerbangan rendah di sekitarnya. Kabut pekat dan hujan deras berpotensi mengganggu navigasi visual pilot saat melintas di wilayah udara pegunungan yang sempit dan berlapis.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memetakan Bulusaraung kerap memicu awan orografis akibat tumbukan udara lembap dari Selat Makassar dengan dinding karst. Proses ini menciptakan hujan lokal yang bisa muncul cepat dan tidak selalu terdeteksi sistem pemantauan cuaca regional.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan turbulensi lokal yang kuat di sekitar lereng gunung. Bagi penerbangan sipil, terutama pesawat bermesin baling-baling dan penerbangan rendah, turbulensi ini meningkatkan risiko keselamatan.
Kerentanan itu tercermin dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Bulusaraung pada 19 Januari 2026. Tim SAR menghadapi hujan, kabut dan angin kencang yang membatasi akses udara dan memaksa evakuasi dilakukan secara bertahap.
Situasi ini memperlihatkan Bulusaraung sebagai kawasan dengan karakter cuaca spesifik yang menuntut kewaspadaan ekstra. Pembaruan data meteorologi, laporan pilot dan koordinasi lalu lintas udara menjadi kunci untuk mengurangi risiko di wilayah tersebut.
