ANTARASATU.COM | Batam - Bagi masyarakat pesisir Kampung Tue Terih, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Dari hasil laut yang selama ini menjadi tumpuan hidup, warga kini berupaya membangun sumber pangan dan penghasilan yang lebih beragam.
Perubahan itu tumbuh melalui program Kampung Bahari Si Pelaut (Sinergi Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Laut) yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal Hang Nadim. Program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) ini mendorong masyarakat mengolah potensi laut menjadi kegiatan produktif, mulai dari budidaya perikanan hingga usaha pangan berbasis hasil laut.
Bagi nelayan, upaya ini menjadi penting karena penghasilan dari menangkap ikan kerap bergantung pada cuaca dan musim. Dengan mengembangkan budidaya dan usaha pengolahan, masyarakat memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan dari sumber yang lebih beragam.
Tidak hanya nelayan, kelompok perempuan juga terlibat dalam pengembangan produk olahan. Hasil laut yang sebelumnya dijual dalam bentuk segar atau bahkan tidak termanfaatkan kini diolah menjadi aneka pangan bernilai tambah.
Program Si Pelaut telah dirintis sejak 2022. Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, program tersebut mengintegrasikan berbagai kegiatan yang sebelumnya berjalan dalam aspek sosial, ekonomi, dan pendidikan.
Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Silvani Maiyestuhariani mengatakan, pengembangan program dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
“Memasuki tahun keempat pelaksanaan program, Kampung Bahari Si Pelaut hadir sebagai integrasi dari beberapa program yang telah dilaksanakan sebelumnya, mulai dari sosial, ekonomi, hingga pendidikan,” ungkapnya melalui keterangan tertulis yang diterima Rabu (14/10).
Pengembangan Kampung Bahari Si Pelaut melibatkan sejumlah kelompok masyarakat. Yakni Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, KUB Belian Tuah, Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, dan Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) Sukses Bersama.
Melalui kelompok-kelompok itu warga mengembangkan budidaya ikan kakap, bawal dan kerapu. Budidaya ikan air tawar dan sayuran dengan sistem akuaponik juga menjadi bagian dari kegiatan serta upaya rehabilitasi mangrove dan pengolahan hasil perikanan.
Ragam kegiatan memperlihatkan bagaimana potensi wilayah pesisir dapat dikembangkan melalui pendekatan yang saling terhubung. Budidaya menyediakan sumber pangan dan bahan baku, pengolahan meningkatkan nilai tambah hasil perikanan, sedangkan rehabilitasi mangrove menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir.
Ketua KUB Terihindo Jaya Lestari, Saidar, mengatakan, pendampingan dari Pertamina membantu kelompoknya membangun kembali usaha budidaya yang sebelumnya menghadapi berbagai kendala.
Menurut Saidar, kelompok nelayan sempat mengalami kegagalan dalam budidaya perikanan karena keterbatasan kapasitas dan akses pasar. Kondisi itu membuat pengembangan usaha tidak selalu berjalan sesuai harapan.
“Dulu kami hanya kelompok nelayan yang mengandalkan hasil tangkapan laut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim. Selain pendampingan, kami dibekali penguatan kapasitas, penyediaan sarana budidaya, serta pengembangan akses pasar,” kata Saidar.
Ia menambahkan, dukungan ini menjadi titik balik bagi kelompoknya untuk mengembangkan usaha budidaya secara lebih terencana dan berkelanjutan.
Salah satu pengembangan yang dilakukan masyarakat adalah mengolah bagian-bagian ikan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit dan tulang ikan, misalnya, kini menjadi bahan baku sejumlah produk pangan.
Kelompok masyarakat mengembangkan enam produk unggulan. Yakni keripik kulit ikan tenggiri original, keripik kulit ikan tenggiri pedas manis, kerupuk kulit ikan kakap, swiss roll abon ikan, abon ikan serta penyedap rasa berbahan tulang ikan.
Tidak berhenti pada ikan, kepala udang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan juga diolah menjadi penyedap rasa. Pengolahannya membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku secara lebih menyeluruh.
Bagian hasil perikanan yang semula kurang bernilai dapat diubah menjadi produk dengan kegunaan dan nilai jual berbeda. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Bahan baku yang tersedia di sekitar kampung diolah menjadi produk pangan sehingga peluang usaha tidak hanya bergantung pada penjualan hasil tangkapan segar. Produk-produk olahan tersebut kini telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura.
Melalui program ini Pertamina Patra Niaga berupaya mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi. Namun juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal Hang Nadim menyatakan akan melanjutkan pendampingan kepada masyarakat Kampung Tue Terih. Terutama dalam pengembangan budidaya perikanan, usaha olahan hasil laut dan pelestarian lingkungan.
Program ini juga diarahkan untuk mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Mencakup pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, penciptaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim serta perlindungan ekosistem laut.
