Para ABK dan personel TNI AL sedang mengevakuasi jasad para korban dari palka kapal.
ANTARASATU.COM | Langkat - Pelayaran KM Pulau Samosir di perairan Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, berubah menjadi tragedi pada Senin (31/8). Tiga anak buah kapal (ABK) meninggal dunia setelah terjebak di dalam palka kapal saat sedang melaut.
Ketiga korban adalah Iwan, 51, Garto , 50, dan Mamat, 45. Ketiganya merupakan nelayan yang sedang menjalankan aktivitas penangkapan ikan bersama enam ABK lain.
Kapal tersebut sebelumnya bertolak dari Gudang Buncuan Gabion, Pelabuhan Perikanan Samudera, Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, sekitar pukul 02.30 WIB.
Sekitar pukul 09.00 WIB, Garto masuk ke palka bagian depan untuk melakukan pembersihan. Namun, beberapa saat kemudian ia tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Kepala Dinas Penerangan Kodaeral I Kolonel Wahyu Kurniawan mengatakan, melihat rekannya dalam kondisi tidak berdaya, Mamat berusaha memberikan pertolongan dengan masuk ke dalam palka.
"Namun turut mengalami kondisi serupa," kata Wahyu, Selasa (1/9).
Peristiwa itu kemudian kembali terjadi ketika Iwan berupaya menolong kedua rekannya. Ia turut tidak sadarkan diri setelah masuk ke area palka.
Situasi tersebut membuat nakhoda KM Pulau Samosir, Yusri M. Jamil, mengambil tindakan untuk mencegah korban bertambah. Yusri melarang ABK lainnya mendekati palka. Kapal kemudian diarahkan kembali menuju daratan untuk mendapat pertolongan.
Sekitar pukul 16.00 WIB, KM Pulau Samosir tiba dan bersandar di Gudang Buncuan Gabion. Laporan mengenai kejadian itu kemudian diterima pengurus gudang dan diteruskan kepada personel Posal Medan Labuhan.
Personel Posal Medan Labuhan selanjutnya bergerak membantu proses evakuasi. Mulai pukul 16.05 WIB, petugas bersama ABK mengevakuasi ketiga korban dari dalam palka.
Ambulans telah disiapkan di lokasi untuk membawa korban setelah berhasil dikeluarkan dari ruang tertutup tersebut. Proses evakuasi berlangsung hingga sekitar pukul 17.30 WIB.
Ketiga korban kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju rumah duka masing-masing untuk diserahkan kepada keluarga.
Kodaeral I menyebut kondisi di dalam palka diduga berkaitan dengan paparan gas berbahaya atau kekurangan oksigen. Namun penyebab pasti kematian ketiga nelayan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Palka merupakan ruang tertutup di kapal yang memiliki risiko keselamatan apabila dimasuki tanpa memastikan kondisi udara dan ventilasi. Ruang semacam itu dapat menjadi berbahaya apabila terjadi kekurangan oksigen atau terdapat gas beracun yang tidak terlihat dan tidak tercium.
Kodaeral I menegaakan, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) maritim adalah aspek yang sangat penting. Terutama sebelum ABK memasuki ruang tertutup seperti palka.
Pemeriksaan kondisi udara dan memastikan ventilasi yang memadai menjadi bagian penting untuk mencegah kecelakaan serupa. Dalam kejadian ini, tindakan nakhoda yang melarang ABK lain memasuki palka dinilai penting untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.
