Perniagaan sayur dan buah di Pasar Induk Lau Cih, Medan.
ANTARASATU.COM | Medan - Harga sejumlah komoditas pangan di Kota Medan masih bertahan tinggi meski aktivitas erupsi Gunung Sinabung mulai mereda. Selain sayuran dan cabai, harga gula pasir juga mulai menunjukkan kenaikan pada September 2026.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, meski status Gunung Sinabung masih berada pada level III atau siaga, aktivitas erupsi mulai terhenti dan tidak lagi memuntahkan awan panas dalam jumlah signifikan. Namun kondisi itu belum serta-merta membuat harga pangan, khususnya komoditas sayuran, kembali normal.
"Meski aktivitas Gunung Sinabung berangsur normal, harga pangan khususnya sayur-sayuran masih bertahan mahal hingga saat ini," ungkap Gunawan, di Medan, Selasa (8/9).
Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Kota Medan mencapai sekitar Rp56.000 per kilogram di Pasar Petisah. Harga itu relatif belum mengalami perubahan signifikan sejak awal September.
Sementara itu, harga cabai rawit juga masih bergerak stabil di kisaran Rp60.000 per kilogram di pasar yang sama. Kenaikan justru terlihat pada cabai caplak merah.
Berdasarkan pengamatan langsung, harga komoditas tersebut naik tajam dari sebelumnya berada di kisaran Rp65.000 per kilogram menjadi sekitar Rp78.000 per kilogram.
Harga tomat juga ikut terkerek naik. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp12.000 per kilogram, kini harganya mencapai sekitar Rp14.000 per kilogram.
Menurut Gunawan, tekanan harga pangan juga mulai merembet ke komoditas gula pasir. Meski kenaikannya belum terjadi secara merata, pergerakan harga gula perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi berikutnya.
Berdasarkan pemantauan PIHPS Kota Medan, harga gula pasir di Pusat Pasar tercatat naik sekitar Rp250 per kilogram pada September ini.
"Saya memproyeksikan harga gula pasir berpeluang naik serentak nantinya dan berpeluang mendorong kenaikan laju tekanan inflasi," katanya.
Gunawan memerkirakan inflasi Sumut masih berada dalam tren meningkat pada September 2026. Sejauh ini, cabai dan gula pasir telah memberikan tekanan terhadap inflasi.
Di sisi lain, harga daging ayam dan beras masih bertahan pada level yang relatif tinggi. Minyak goreng juga berpotensi mengalami kenaikan seiring dengan pergerakan harga crude palm oil (CPO) yang berada di sekitar 4.978 ringgit Malaysia per ton.
Dia menilai harga CPO masih berpeluang kembali menguji level 5.000 ringgit per ton, seperti yang sempat dicapai pada akhir Agustus 2026.
Jika kenaikan harga sejumlah komoditas pangan berlanjut, tekanan terhadap inflasi Sumut berpotensi semakin besar. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan pasokan maupun distribusi.
Gunawan mengimbau pemerintah, khususnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), untuk mewaspadai potensi gangguan supply dan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga pangan lebih lanjut.
Selain persoalan distribusi, sisi produksi pangan juga masih menghadapi risiko akibat faktor cuaca dan bencana alam. Sejumlah komoditas pangan masih dihantui ancaman gangguan produksi akibat bencana alam serta musim kemarau panjang yang berpotensi dipengaruhi fenomena El Nino.
Menurut Gunawan, faktor alam menjadi salah satu variabel yang sulit diproyeksikan. Namun, dampaknya terhadap produksi pangan dapat cukup besar dan pada akhirnya berpotensi memicu lonjakan inflasi.
Produksi sejumlah kebutuhan pangan masih dihantui ancaman bencana alam dan musim kemarau panjang. Faktor alam menjadi variabel yang sulit diproyeksikan dan memiliki daya rusak yang besar serta tentunya dapat memicu lonjakan inflasi," jelasnya.
Dia melihat harga pangan belakangan ini masih rawan bergejolak. Kombinasi antara potensi bencana alam, faktor musim dan ancaman kekeringan lahan pertanian dapat mengganggu produksi maupun pasokan pangan ke pasar.
