google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Cabai Merah di Sumut Melambung, Dampak Erupsi Sinabung?

Advertisement

Harga Cabai Merah di Sumut Melambung, Dampak Erupsi Sinabung?

01 September 2026

Kebun cabai merah yang terkena sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Sinabung.

ANTARASATU.COM | Medan -  Harga cabai merah di Sumut, khususnya Kota Medan dan sekitarnya, melonjak pada pekan ini. Kenaikan terjadi setelah erupsi Gunung Sinabung, tetapi lonjakan harga itu dinilai tidak berkaitan langsung dengan gangguan produksi maupun distribusi akibat erupsi.

Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kota Medan, harga cabai merah di Pusat Pasar mencapai Rp55 ribu per kilogram. Di Pasar Petisah, komoditas yang sama ditransaksikan sekitar Rp57 ribu per kilogram.

Harga tersebut naik tajam dibandingkan Jumat pekan lalu. Saat itu, cabai merah di Pusat Pasar tercatat masih berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram dan Rp44 ribu per kilogram di Pasar Petisah.

Kenaikan juga terjadi pada komoditas tomat. Harganya kini berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram, naik dari sekitar Rp12 ribu per kilogram pada Jumat pekan lalu.

Ekonom Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, lonjakan harga ini sempat memunculkan dugaan bahwa erupsi Gunung Sinabung telah mengganggu produksi dan distribusi hasil pertanian dari kawasan sentra produksi di Kabupaten Karo.

Namun, hasil observasinya di lapangan menunjukkan pasokan cabai merah dari sejumlah sentra produksi masih berlangsung. Panen cabai merah saat ini terjadi di Desa Kuta Buluh dan Bintang Meriah.

Kedua wilayah tersebut selama ini menjadi pemasok utama cabai merah ke Medan dan sekitarnya. Gunawan mengatakan, produksi cabai merah di kedua wilayah itu masih relatif aman dari dampak langsung erupsi Gunung Sinabung.

Pasokan juga berasal dari wilayah dataran rendah, khususnya Desa Beringin dan sekitarnya di Kabupaten Deli Serdang. Aktivitas panen di wilayah itu turut menjaga ketersediaan cabai merah di pasar.

Persoalan pasokan justru terjadi di Kabupaten Batubara. Musim panen cabai merah di wilayah itu mulai berakhir sehingga produksi mengalami penurunan.

Kenaikan harga cabai merah pada pekan ini, menurut dia, lebih kuat dipengaruhi oleh berkurangnya produksi di salah satu sentra pemasok, yakni Batubara.

Terutama karena musim panen di Batubara mulai berakhir. Bukan akibat langsung dari erupsi Gunung Sinabung.

Kondisi ini, lanjut dia, menjadi salah satu faktor utama berkurangnya pasokan cabai merah dan mendorong kenaikan harga di pasar. Tekanan pasokan semakin besar karena produksi cabai merah Sumut tidak hanya memenuhi kebutuhan daerah sendiri.

Sebagian produksi juga digunakan untuk memenuhi permintaan dari Aceh. Kondisi itu membuat harga cabai merah lebih rentan mengalami kenaikan ketika produksi dari salah satu wilayah sentra menurun.

Apalagi, sejumlah daerah di luar Sumut mulai menghadapi musim kering yang berpotensi berlangsung panjang. Situasi itu dapat meningkatkan permintaan cabai merah dari Sumut.

Jika permintaan dari luar daerah meningkat sementara produksi lokal tidak bertambah, harga cabai berpotensi kembali naik atau bertahan pada level tinggi. Para pedagang besar dilihatnya telah melakukan sejumlah langkah untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga.

"Namun pemerintah juga perlu berperan dalam memperlancar distribusi komoditas pangan antardaerah," imbuhnya.

Kendati memang, erupsi Gunung Sinabung tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Letusan yang berlangsung lama dapat berpotensi menimbulkan gangguan terhadap aktivitas petani maupun produksi pertanian apabila wilayah terdampak meluas.

Karena itu, mitigasi kebijakan juga diperlukan untuk melindungi petani sekaligus menjaga produk pertanian tetap dapat dipasarkan. Berakhirnya erupsi juga diharapkan dapat mengurangi kecemasan petani dan membantu menciptakan kestabilan harga di tingkat lapangan.