google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Erupsi Anak Krakatau: 22 Menit Mencekam Sebelum Lima Jurnalis Hilang Kontak

Advertisement

Erupsi Anak Krakatau: 22 Menit Mencekam Sebelum Lima Jurnalis Hilang Kontak

10 September 2026



ANTARASATU.COM | Banten - Deru mesin speedboat membelah gelombang perairan Selat Sunda pada Senin (7/9) sore. Di atas perahu bermotor cepat itu, lima jurnalis dan tiga awak kapal bertaruh dengan jarak pandang yang kian menyempit.

Misi mereka merekam geliat erupsi Gunung Anak Krakatau dari jarak terdekat yang memungkinkan.
Namun, pelayaran liputan itu berubah menjadi kepanikan singkat sebelum hening total menyelimuti.

Pukul 14.42 WIB, salah satu penumpang sempat mengirim titik koordinat posisi kapal kepada rekannya di darat. Lokasi perahu tercatat berada di perairan menuju gugusan pulau vulkanik tersebut.

Tidak ada firasat buruk yang disampaikan. Namun, tepat 22 menit berselang, pukul 15.04 WIB, saluran komunikasi mendadak mati total. Sinyal ponsel dan alat komunikasi perahu lenyap seketika.

Rombongan yang terdiri dari: M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency) dan Donal (jurnalis freelance) serta tiga kru kapal: Warta (kapten), Surakman (ABK), dan Heriyanto (pemandu), hilang ditelan pekatnya abu vulkanik Selat Sunda.

Laporan hilang kontak itu diterima Kantor SAR Banten pada Selasa (8/9) pagi,m. Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten pun segera bergerak membagi wilayah operasi menjadi lima sektor utama.

Operasi SAR berskala besar dikerahkan. Armada laut seperti KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, dan KP Sanjaya milik Polairud menyisir gugusan Pulau Rakata, Pulau Panjang, hingga area paling berbahaya di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Di udara, drone thermal diterbangkan menembus ketebalan material erupsi. Namun, alam tak bersahabat.

"Jarak pandang di lokasi penyisiran sangat terbatas, hanya sekitar satu mil laut," ujar Kepala Kantor SAR Banten sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC) Zaenal Arifin.

Kombinasi ombak besar Selat Sunda dan semburan abu vulkanik tebal membatasi ruang gerak tim penyelamat. Hingga Rabu (9/9) sore, tujuh Search and Rescue Unit (SRU) belum menemukan titik terang meski sudah memperluas jangkauan hingga ke perairan Pulau Sebesi, Lampung, 

"Hasil penyisiran darat, laut, maupun udara masih nihil. Belum ditemukan bangkai perahu, barang bawaan, ataupun tanda-tanda keberadaan korban," kata Zaenal.

Di saat tim SAR berjibaku dengan gelombang dan abu, antisipasi buruk mulai disiapkan di darat. Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Banten membuka Posko Disaster Victim Identification (DVI)/Antemortem.

Kepala Bidang Dokkes Polda Banten, Kombes M. Iqbal menyatakan, posko ini difungsikan untuk mengumpulkan data medis, sampel DNA, hingga identitas fisik para korban dari pihak keluarga.

"Langkah ini kami ambil untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan mempercepat proses identifikasi jika ditemukannya petunjuk di lapangan," ungkapnya.

Sesuai prosedur keselamatan kerja di laut, pencarian jalur perairan dihentikan sementara menjelang petang akibat visibilitas yang kian buruk dan risiko tinggi paparan erupsi lanjutan. Kendati demikian, operasi penyisiran akan dilanjutkan dengan mengoptimalkan seluruh armada yang ada.