google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 TRAGEDI BUMI ASRI: Bantah Polisi, Keluarga Yakin Winda Disiksa Sebelum Pistol Meletus

Advertisement

TRAGEDI BUMI ASRI: Bantah Polisi, Keluarga Yakin Winda Disiksa Sebelum Pistol Meletus

07 Agustus 2026

Kondisi kuku jenazah Winda yang membiru. (Ist. FB Viollatteby Kaani)

ANTARASATU.COM | Medan - Pihak keluarga Winda Lorenza Gowasa membantah keterangan pihak kepolisian terkait penyebab kematian korban yang tewas akibat luka tembak. Keluarga meyakini korban sempat mengalami penganiayaan fisik sebelum akhirnya ditemukan tewas.

Sanggahan itu disampaikan oleh perwakilan keluarga korban melalui akun media sosial Viollatteby Kaani pada Kamis (6/8) dan dikutip pada Jumat (7/8). Pihak keluarga menduga korban sempat dicekik dan dibanting sebelum meninggal dunia.

Dugaan itu diperkuat oleh hasil pengamatan pihak keluarga bersama sejumlah tenaga medis yang mengecek langsung kondisi jenazah korban.

"Besar kemungkinan adik kami dicekik dahulu bagian lehernya dan dibanting. Hal ini diperkuat kondisi jari-jari korban yang membiru akibat kekurangan oksigen sebelum kematiannya dan kepalanya mengalami perubahan bentuk yang kami curigai akibat benturan keras," tulis kerabat korban dalam unggahannya.

Selain itu, keluarga juga menemukan bekas lebam berwarna biru di sepanjang garis leher serta luka jahitan di area tenggorokan. Akun Viollatteby Kaani menegaskan, pernyataan dan foto-foto jenazah korban diunggah atas persetujuan orang tua serta seluruh keluarga besar.

Dia juga menegaskan agar tidak ada pihak yang memintanya menghapus unggahan tersebut. Pernyataan keluarga ini berseberangan dengan hasil pengusutan Polrestabes Medan.

Sebelumnya, Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak menyatakan, penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan laboratorium forensik hingga autopsi jenazah. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut pihaknya tidak menemukan indikasi kekerasan selain luka tembak di kepala.

"Hasil pemeriksaan autopsi dan laboratorium forensik menunjukkan adanya residu tembakan pada jari tangan, tubuh, dan pakaian korban. Sementara pada tangan saksi Brigadir IH tidak ditemukan residu tembakan," ungkap Jean Calvijn, Selasa (4/8).

Menurut Kapolrestabes, dokter forensik memastikan luka yang ditemukan hanya luka tembak pada bagian kepala. Tidak ditemukan tanda kekerasan lain, baik akibat benda tumpul maupun benda tajam, pada tubuh wanita berusia 35 tahun itu.

Jean Calvijn juga menguraikan, peristiwa itu terjadi saat korban berada di dalam kamar rumahnya bersama saksi Brigadir IH dan anaknya yang berusia sembilan tahun. Brigadir IH kemudian mendapati tasnya yang berisi senjata api terbuka sebelum korban mengunci diri di kamar mandi.

Korban sempat mengucapkan kata "Maafkan saya" sebelum terdengar satu kali suara letusan senjata api dari dalam kamar mandi.