ANTARASATU.COM | Medan - Persaingan memperebutkan likuiditas global semakin ketat seiring dengan kenaikan suku bunga acuan bank sentral utama dunia. Kondisi ini berpotensi menekan pasar keuangan negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pembiayaan eksternal.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Eropa menjadi sinyal bahwa biaya dana di pasar global semakin mahal.
"Biaya dana untuk merebut likuiditas global kian mahal belakangan ini," katanya, di Medan, Selasa (22/9).
Tekanan itu tercermin dari pergerakan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level 5%. Kenaikan yield menunjukkan investor meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi di tengah meningkatnya risiko dan tekanan inflasi.
Menurut Gunawan, tekanan terhadap pasar obligasi juga tidak terlepas dari kenaikan harga minyak mentah. Ketika harga komoditas energi meningkat, inflasi berpotensi ikut terdorong sehingga nilai relatif aset keuangan mengalami tekanan.
Kondisi itu kemudian membuat investor menuntut imbal hasil yang lebih besar. Permintaan yield yang lebih tinggi dapat mendorong aksi jual surat utang dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Tekanan di pasar obligasi AS sebelumnya direspons Departemen Keuangan AS melalui program pembelian kembali atau buyback surat utang. Langkah ini, menurut Gunawan, dapat meredam tekanan jual, tetapi belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan pasar.
Di sisi lain, kebijakan suku bunga bank sentral menjadi instrumen penting untuk meredam gejolak pasar. Kenaikan suku bunga membuat aset berbasis dolar AS relatif lebih menarik dan pada saat yang sama memperketat persaingan mendapatkan likuiditas global.
"Persaingan perebutan likuiditas di pasar kian sengit," ujarnya.
Dampak dari kondisi itu tidak hanya dirasakan oleh pasar keuangan AS. Negara-negara berkembang juga berpotensi menghadapi tekanan terhadap nilai tukarnya ketika arus modal global bergerak menuju aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Indonesia termasuk negara yang perlu mencermati perkembangan ini. Tekanan terhadap rupiah dapat meningkat ketika investor global melakukan penyesuaian portofolio akibat perubahan suku bunga dan imbal hasil aset di negara maju.
Gunawan menilai Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk merespons tekanan itu melalui kebijakan suku bunga. Namun, menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar tidak cukup hanya mengandalkan perubahan BI Rate.
"Menjaga likuiditas tidak lantas hanya mengandalkan BI Rate. Pasar obligasi bisa menjadi langkah awal dalam mengendalikan gejolak mata uang yang ditimbulkan dari perang harga instrumen keuangan," katanya.
Menurut dia, perkembangan pasar obligasi ke depan akan menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Kebijakan pemerintah dan bank sentral dalam mengelola pasar surat utang akan ikut menentukan kemampuan masing-masing negara menghadapi tekanan likuiditas.
Tekanan likuiditas menjadi semakin serius bagi negara yang memiliki eksposur utang dalam mata uang asing dalam jumlah besar. Ketika mata uang domestik melemah, beban pembayaran utang dalam valuta asing dapat meningkat.
Risiko itu dapat semakin besar apabila konflik geopolitik membuat harga minyak mentah bertahan pada level tinggi. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperbesar kebutuhan devisa negara pengimpor energi.
"Jika kondisi perang berlanjut dan membuat harga minyak mentah bertahan mahal, maka negara yang kesulitan memenuhi kebutuhan likuiditasnya berpeluang menghadapi ancaman tekanan mata uang yang bisa menyeret risiko yang lebih besar," ujar Gunawan.
Dalam skenario tekanan yang berkepanjangan, negara dengan fundamental fiskal dan eksternal yang lemah dapat menghadapi kesulitan memenuhi kewajiban utangnya. Risiko gagal bayar pun dapat meningkat dan berpotensi merembet ke sektor keuangan maupun perekonomian secara lebih luas.
Gunawan menyebut kondisi ini dapat berkembang menjadi krisis multidimensional apabila tekanan mata uang, utang, inflasi dan likuiditas terjadi secara bersamaan.
"Indonesia sejauh ini masih relatif aman. Namun Indonesia harus berhati-hati mengelola kebijakan fiskal agar sisi moneternya tetap bisa manageable," kata dia.
