ANTARASATU.COM | Medan - Ekonom memeroyeksiksn Sumut akan membukukan tingkat inflasi melebihi 0,41% secara bulanan pada Agustus 2026. Lonjakan harga daging ayam menjadi pemicu utama kenaikan indeks harga konsumen di wilayah ini.
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengungkapkan, komoditas daging ayam mengalami kenaikan harga paling tinggi. Yakni berada di rentang 17% hingga 25% secara bulanan.
"Disusul harga cabai rawit dalam rentang 8% hingga 10%, cabai merah sekitar 1,6% hingga 11% serta beras stabil cenderung naik hingga 1,8%," katanya, Jumat (28/8).
Menuruy dia, kenaikan harga juga menjalar ke kelompok komoditas ikan segar seperti kembung (8,6%), tongkol (6%), dencis (1,3%), dan udang basah (5,7%). Komoditas non-pangan seperti emas naik sekitar 7%, diikuti material bangunan berupa cat tembok, semen dan besi beton.
Gunawan menilai sumbangan inflasi Sumut pada Agustus juga dipicu oleh kenaikan biaya input produksi akibat tensi geopolitik Timur Tengah yang memanas. Kondisi itu mendorong kenaikan biaya pakan, logistik, plastik, ayam bakalan (grand parent stock) hingga multivitamin.
Dampak kenaikan harga daging ayam ini merembet langsung pada komoditas olahan seperti nasi lauk ayam. Kenaikan harga daging ayam menjadi beban berat bagi usaha kuliner seperti rumah makan, rumah tangga, hingga pengelola dapur MBG.
Meski Gunawan memerkirakan komoditas bawang merah akan menyumbang deflasi pada bulan ini. Peluang deflasi juga datang dari bawang putih yang turun 15%, jeruk 13%, tomat dan wortel 5% serta bayam dan sawi hijau.
Tekanan inflasi di Sumut pun diproyeksikannya masih berpotensi berlanjut hingga tutup tahun. Faktor cuaca dan ancaman kekeringan akibat El Nino di sejumlah daerah luar Sumut menjadi risiko utama yang dinilai sulit dielakkan.
