google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Gangguan Produksi Beras Hantui Sumut hingga Awal 2027

Advertisement

Gangguan Produksi Beras Hantui Sumut hingga Awal 2027

20 Agustus 2026

Aktivitas persawahan di Kabupaten Deli Serdang, Sumut.

ANTARASATU.COM | Medan - Ancaman kelangkaan dan kenaikan harga beras diprediksi masih akan menghantui Sumut hingga kuartal pertama 2027. Meski puncak musim panen padi di wilayah ini diproyeksikan berlangsung pada September hingga Oktober mendatang, pasokan beras lokal diperkirakan tidak akan tersisa untuk mengamankan kebutuhan masyarakat hingga Februari atau momentum Idufitri.

Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengungkapkan, ancaman berkepanjangan ini dipicu oleh fenomena El Nino yang diprakirakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini berpotensi memicu kegagalan panen dan penurunan volume produksi beras secara nasional, termasuk Sumut.

"Sekalipun Sumut nantinya bisa memaksimalkan produksi padinya, tetapi bukan berarti ancaman kelangkaan maupun kenaikan harga akan terhindarkan," katanya, Kamis (20/8).

Gunawan menjelaskan, mekanisme pasar dan jaringan tata niaga antar-pedagang besar akan membuat beras dari Sumut terserap ke daerah lain jika wilayah tetangga mengalami gagal panen. Hal itu berisiko menguras cadangan beras domestik Sumut meski produksi lokal sempat membaik saat panen raya.

Ancaman jangka panjang ini melengkapi persoalan minimnya pasokan beras yang belakangan mulai dikeluhkan para pedagang pengecer dan pengelola ritel modern di Sumut. Kendati belum memicu aksi borong atau panic buying di tingkat konsumen rumah tangga, hilangnya sejumlah merek beras di pasaran mulai mengancam kesinambungan usaha para pelaku sektor kuliner yang bergantung pada pasokan jenis beras tertentu.

Untuk gangguan pasokan jangka pendek, dia memerkirakan kondisi pasar ritel dapat membaik dalam satu hingga dua pekan ke depan seiring mulainya jadwal panen di beberapa sentra persawahan. Namun Gunawan menilai Perum Bulog perlu mengintervensi pasar secara cepat selama masa transisi ini.

"Yang penting Bulog mampu menyediakan pasokan beras setidaknya untuk satu hingga dua pekan mendatang, atau setidaknya Bulog memiliki 66 ribu ton untuk memastikan pasokan aman dalam jangka pendek," ujarnya.

Di sisi lain, dia mengeritik lemahnya tata kelola data pasokan beras, baik yang dimiliki pemerintah maupun pelaku usaha kilang. Menurut Gunawan, data ketersediaan beras di tingkat tapak sangat fluktuatif karena sangat bergantung pada dinamika cuaca dan tingkat keberhasilan petani di sawah.

Sejauh ini, pemetaan terhadap angka produksi, konsumsi hingga alur distribusi beras lintas provinsi dinilai belum sepenuhnya akurat. Padahal, integrasi data pasokan krusial digunakan sebagai instrumen mitigasi risiko untuk memprediksi guncangan pasar di masa depan.

Dia pun mendesak pemerintah agar segera merumuskan dan mengeluarkan instrumen kebijakan yang efektif untuk meredam dampak El Nino. Sebab masalah itu berpotensi melumpuhkan ketahanan pangan daerah hingga 2027.