ANTARASATU.COM | MEDAN - Eskalasi konflik yang kembali memanas antara Iran dan AS berdampak langsung pada komoditas global. Pekan ini, harga karet dunia berbalik arah dan mengalami lonjakan ke level US$2,19 per kilogram, menyusul intensitas serangan AS yang semakin tajam ke Iran.
Kenaikan harga karet ini seiring dengan tren positif minyak mentah dunia yang kini tercatat diperdagangkan di kisaran US$85 per barel. Pada awal Juli, harga karet tercatat sempat berada di posisi US$2,14 per kilogram sebelum akhirnya merangkak mendekati level $2,20 per kilogram saat ini.
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, meski secara teknis terdapat hambatan ekspor ke sejumlah negara tujuan di Timur Tengah, ketegangan geopolitik justru memicu ekspektasi peningkatan permintaan global terhadap karet alam.
Di sisi lain, produksi karet di wilayah Sumut diproyeksikannya mengalami kenaikan sebesar 4% secara bulanan pada Juli ini. Peningkatan produksi itu juga didukung oleh faktor musiman pasca-musim gugur daun.
"Jika eskalasi perang antara Iran dengan AS atau Israel terus memburuk, harga karet berpotensi besar melanjutkan tren kenaikan," ujarnya, di Medan, Jumat (17/7).
Kenaikan harga ke depan diprediksinya lebih banyak didorong oleh faktor fundamental ekonomi daripada sekadar sentimen teknikal. Dengan kondisi pasar saat ini, harga karet dunia berpeluang kembali mendekati level tertinggi sebelumnya di kisaran US$2,35 per kilogram.
Bagi para petani karet, situasi panas di Timur Tengah ini pun menjadi anomali yang memberi angin segar di tengah ketidakpastian global.
