google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Minyak Dunia Melonjak, IHSG dan Rupiah Kompak Terkapar

Advertisement

Minyak Dunia Melonjak, IHSG dan Rupiah Kompak Terkapar

08 Juli 2026

Ilustrasi.

ANTARASATU.COM | MEDAN - Pasar keuangan domestik, Rabu (8/7), berada di bawah tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,89% ke level 5.873,37. Sementara nilai tukar Rupiah terpuruk hingga menyentuh level 18.050 per dolar AS.

Menurut Analis pasar keuangan dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin, kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia di sesi perdagangan Asia. Harga minyak jenis WTI kini bertengger di level US$74,9 dan jenis Brent mencapai US$78,7 per barel.

"Gejolak ini terjadi setelah Amerika Serikat menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran resmi berakhir, yang langsung menyulut kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah," ungkapnya, di Medan.

Dia menilai, kombinasi antara konflik geopolitik dan ancaman inflasi telah memicu aksi jual masif di pasar modal. Dan pasar keuangan saat ini sedang merespons sentimen negatif secara agresif.

Kenaikan harga minyak mentah dinilai telah memicu kekhawatiran global akan kembalinya ancaman inflasi tinggi di Amerika Serikat. Hal ini membuat dolar AS kembali perkasa dan menekan aset berisiko, termasuk saham di bursa Asia maupun Rupiah.

Gunawan menambahkan, tekanan pada IHSG semakin nyata saat indeks gagal memertahankan posisi di atas level psikologis 5.900. Menurut dia, selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut memperparah kondisi pasar.

Kepercayaan konsumen melambat, turun ke level 117,8 pada Juni dari sebelumnya 120,9 di bulan Mei. Ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral di tengah situasi yang sulit diprediksi ini membuat investor cenderung bersikap defensif atau menarik diri dari pasar.

Di tengah gejolak pasar saham dan mata uang, harga emas dunia juga mengalami tekanan. Logam mulia ditransaksikan di kisaran harga US$4.073 per ons troy, atau setara dengan Rp2,36 juta per gram.

Pasar kini menanti langkah otoritas moneter dalam menyikapi guncangan ini. Namun, dengan situasi geopolitik yang kian memanas dan data ekonomi yang melambat, volatilitas tinggi diperkirakan masih akan membayangi pasar keuangan dalam jangka waktu dekat.