google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Pukulan Domestik dan Global Kembali Bikin Rupiah Terkapar di Level 18 Ribu

Advertisement

Pukulan Domestik dan Global Kembali Bikin Rupiah Terkapar di Level 18 Ribu

02 Juli 2026


ANTARASATU.COM | MEDAN - Nilai tukar rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/7). Pelemahan mata uang Garuda justru terjadi di tengah minimnya sentimen positif di pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan mampu bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.

Ini merupakan kali kedua rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS sepanjang tahun ini. Sebelumnya, mata uang Garuda pertama kali menembus level tersebut pada 4 Juni dengan penutupan di kisaran Rp18.049 per dolar AS.

Sehari kemudian, rupiah masih bertahan di atas Rp18.000 dan ditutup sekitar Rp18.036 per dolar AS sebelum akhirnya kembali menguat.

Analis Pasar Keuangan dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai tekanan terhadap rupiah belum mereda karena dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Menurut dia, memburuknya sejumlah indikator ekonomi membuat sentimen terhadap aset domestik melemah, sementara ketidakpastian geopolitik mendorong pelaku pasar lebih berhati-hati.

"Tekanan terhadap rupiah belum mereda di tengah memburuknya sejumlah data ekonomi sebelumnya. Sementara itu, minimnya sentimen pasar membuat sektor keuangan sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik," ungkapnya, di Medan.

Di tengah pelemahan rupiah, IHSG justru bergerak berlawanan arah. Indeks sempat bergerak pada rentang 5.704 hingga 5.806 sebelum ditutup menguat 0,87% ke level 5.744,556.

Penguatan IHSG ditopang saham-saham berkapitalisasi besar seperti BMRI, BBCA, BBRI, BUMI, dan ANTM. Indeks menguat meski mayoritas bursa saham Asia melemah.

Menurut dia, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data klaim pengangguran AS serta sejumlah indikator ekonomi lain yang akan menjadi sentimen perdagangan berikutnya. Hasil data tersebut akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Sementara itu, harga emas dunia menguat ke level US$4.070 per ons troi atau sekitar Rp2,36 juta per gram. Gunawan menilai kenaikan harga emas dipicu mulai meredanya tekanan harga dalam beberapa waktu terakhir serta penurunan harga minyak mentah dunia.

"Namun, ketidakpastian geopolitik masih berpotensi mengubah arah pergerakan emas maupun pasar keuangan global sewaktu-waktu," pungkasnya.