ANTARASATU.COM | MEDAN - Libur sekolah yang membuat operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti sementara ikut mengubah dinamika permintaan sejumlah bahan pangan. Harga daging ayam dan telur ayam tercatat menurun di sejumlah daerah di Sumatra Utara.
Namun, penurunan itu belum tentu menjadi kabar menggembirakan. Jika melihat menu MBG, kebutuhan pangan yang paling sering digunakan antara lain telur ayam, daging ayam, buncis, wortel, serta nasi.
Ada pula susu, buah-buahan dan kacang-kacangan sebagai pelengkap menu. Ketika dapur MBG tidak beroperasi selama masa libur sekolah, permintaan terhadap sebagian komoditas tersebut ikut berkurang.
Meski demikian, tidak semua harga bahan pangan mengalami penurunan. Secara bulanan pada Juni, harga wortel justru naik sekitar 37% dibandingkan Mei. Harga buncis relatif stabil di kisaran Rp13 ribu per kilogram.
Di sisi lain, harga kacang panjang turun sekitar 36%, tomat turun 16% dan sawi hijau merosot sekitar 42%.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin, Kamis (2/7), menilai, fluktuasi harga sayuran merupakan hal yang lumrah karena komoditas tersebut mudah disubstitusi. Dapur MBG dapat mengganti jenis sayuran sesuai ketersediaan dan harga di pasar sehingga perubahan permintaan tidak selalu berdampak besar terhadap satu komoditas tertentu.
Berbeda dengan sayuran, kata Gunawan, permintaan daging ayam dan telur ayam cenderung lebih stabil ketika dapur MBG beroperasi karena kedua komoditas tersebut lebih sering menjadi menu utama. Karena itu, penghentian sementara operasional dapur selama libur sekolah ikut memengaruhi permintaan.
Harga daging ayam sendiri telah menunjukkan tren penurunan sejak Maret. Di salah satu pasar di Kota Medan, harga turun dari sekitar Rp43 ribu menjadi Rp33 ribu per kilogram pada Juni atau sekitar 23,3%. Sementara di salah satu pasar tradisional Kabupaten Deli Serdang, penurunannya mencapai sekitar 16% pada periode yang sama.
Di tingkat produsen, harga ayam hidup juga mengalami tekanan. Jika pada Mei masih berada di kisaran Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram, pekan lalu harganya sempat turun menjadi Rp16.500 per kilogram.
Kondisi serupa terjadi pada telur ayam. Di salah satu pasar tradisional Deli Serdang, harga telur turun dari sekitar Rp30.600 per kilogram pada Mei menjadi Rp28.300 per kilogram sejak 19 Juni.
Meski demikian, Gunawan mengingatkan pemerintah untuk tidak serta-merta mengaitkan penurunan harga ayam dan telur dengan liburnya dapur MBG. Menurut dia, kondisi tersebut juga bisa menjadi indikator melemahnya daya beli masyarakat.
"Penurunan harga daging ayam dan telur ayam bukan hanya dipicu oleh libur anak sekolah yang membuat dapur MBG libur sementara. Pemerintah harus mewaspadai kondisi ini karena bisa mengindikasikan adanya tekanan besar terhadap daya beli masyarakat," katanya.
Menurut dia, apabila penurunan permintaan dari rumah tangga terus berlangsung, tekanan terhadap harga komoditas pangan berpotensi berlanjut. Meski program MBG kembali berjalan setelah masa libur sekolah berakhir.
