Simpang Sicanang.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Simpang Sicanang di kawasan Belawan, Kota Medan, mendadak lengang dari praktik pungutan liar pada Sabtu (19/4). Kondisi berubah drastis setelah Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) Koarmada I melakukan operasi penindakan terhadap pelaku yang selama ini meresahkan.
Sehari-hari, persimpangan itu dikenal sebagai titik rawan pungli terhadap sopir truk dan kendaraan logistik. Para pelaku biasanya memaksa pengendara membayar sejumlah uang dengan ancaman gangguan jika menolak.
Operasi yang dilakukan aparat militer segera mengubah suasana. Pengendara sepeda motor hingga mobil kini dapat melintas tanpa tekanan, sesuatu yang jarang terjadi selama ini.
Kepala Dinas Penerangan Koarmada I Kolonel Laut (S) Wahyu Kurniawan menyebut, langkah itu diambil untuk merespons laporan masyarakat. Ia menegaskan operasi dilakukan bukan untuk mengambil alih peran kepolisian, melainkan membantu menekan keresahan publik.
Menurut Wahyu, koordinasi tetap dijalankan dengan Polres Pelabuhan Belawan serta didukung pemerintah daerah. Para terduga pelaku yang diamankan kemudian diserahkan ke kepolisian untuk diproses hukum lebih lanjut.
Kasi Humas Polres Pelabuhan Belawan AKP Edi Suranta membenarkan pihaknya menerima para terduga pelaku dari Pomal. Proses hukum kini berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah tegas ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Anggota Komisi I DPRD Medan Saipul Bahri menyebut tindakan tersebut sebagai respons yang ditunggu masyarakat dan pelaku usaha di Belawan.
Dukungan juga datang dari kelompok masyarakat lokal. Lembaga Asli Anak Belawan (LAAB) bahkan memasang papan bunga di depan markas Pomal sebagai bentuk terima kasih.
Fenomena pungli di jalur logistik seperti Belawan bukan hal baru. Data dari Ombudsman Republik Indonesia menunjukkan praktik pungli masih kerap terjadi di sektor transportasi dan distribusi barang, terutama di titik-titik strategis seperti pelabuhan dan jalur industri.
Selain merugikan sopir, pungli juga berdampak pada biaya logistik nasional. Studi Kamar Dagang dan Industri Indonesia mencatat biaya tidak resmi di jalan dapat meningkatkan ongkos distribusi hingga belasan persen, yang pada akhirnya memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.
Belawan sebagai salah satu pintu utama distribusi di Sumatera Utara memiliki peran vital dalam rantai pasok. Gangguan seperti pungli tidak hanya menciptakan ketidaknyamanan, tetapi juga menekan efisiensi ekonomi kawasan.
Karena itu, operasi penertiban seperti yang dilakukan Pomal dinilai memberi efek langsung di lapangan. Namun, sejumlah kalangan menilai langkah ini perlu juga diikuti pengawasan berkelanjutan agar tidak bersifat sementara.
Bagi para sopir, perubahan yang terjadi di Simpang Sicanang menjadi harapan baru. Mereka kini bisa melintas tanpa rasa waswas, meski masih menunggu apakah kondisi bebas pungli ini benar-benar bisa bertahan.
