google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Rupiah Terperosok ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah

Advertisement

Rupiah Terperosok ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah

18 April 2026

 


ANTARAsatu.com | MEDAN - Pasar keuangan Indonesia menutup pekan ini dengan catatan sejarah yang kelam bagi nilai tukar Garuda. Mata uang Rupiah resmi mencetak rekor terlemahnya sepanjang masa, menembus level psikologis baru yang sebelumnya tak terbayangkan.

Berdasarkan data pasar pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (17/4) Rupiah ditutup melemah di level Rp17.180 per dolar AS. Angka ini nyaris menyentuh plafon kritis Rp17.200.

Selama sesi perdagangan yang fluktuatif, Rupiah bahkan sempat terjun bebas ke posisi Rp17.193 per dolar AS. Ini merupakan level terendah sejak Indonesia merdeka, melampaui rekor-rekor depresiasi pada masa krisis sebelumnya.

"Secara teknikal, pelemahan Rupiah memang tertahan di level psikologis Rp17.200. Namun, secara fundamental, napas Rupiah kini sangat bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), di Medan.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu bertahan di zona hijau meski bergerak tertatih di tengah tekanan global. Berbeda nasib dengan mata uangnya, IHSG justru menunjukkan resiliensi yang mengejutkan.

Di saat mayoritas bursa saham Asia memerah, IHSG berhasil parkir di zona hijau dengan penguatan tipis 0,17% ke level 7.634,004. Meski berakhir menguat, perjalanan IHSG tidaklah mulus.

Indeks sempat terseret ke zona merah hingga menyentuh level 7.607 akibat tekanan jual dari investor yang khawatir terhadap pelemahan nilai tukar. Adapun saham-saham penopang (movers) IHSG antara lain BBRI, ADRO, EMAS, BREN dan ASII.

Di pasar komoditas, harga emas dunia cenderung bergerak stagnan. Emas ditransaksikan di kisaran US$4.792 per ons troy, atau setara dengan kurang lebih Rp2,66 juta per gram di pasar domestik.

Stagnansi harga si kuning ini merupakan cerminan dari sikap hati-hati para pelaku pasar. Fokus investor kini tertuju pada rencana negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

Pelaku pasar masih meragukan kesepakatan damai permanen akan tercipta di Timur Tengah. Investor pun cenderung mempertahankan aset emas sebagai safe haven selama ketidakpastian geopolitik masih membara.

Jika negosiasi gagal, potensi lonjakan harga minyak dunia dapat semakin membebani neraca perdagangan Indonesia dan memberi tekanan tambahan pada Rupiah.

Gunawan juga menegaskan, pelemahan Rupiah hingga ke level Rp17.180 merupakan alarm keras bagi otoritas moneter. Meski intervensi Bank Indonesia (BI) diprediksi terus terjadi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward* (DNDF), faktor eksternal tetap menjadi kendali utama.

"Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, capital outflow (aliran modal keluar) akan terus menghantui pasar berkembang, seperti Indonesia," ujarnya.

Dia melihat angka Rp17.200 bukan sekadar angka, tapi ujian kredibilitas pasar keuangan RI.