google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Pertamina Group Genjot Energi Rendah Karbon Lewat Kerja Sama PIS-PGN

Advertisement

Pertamina Group Genjot Energi Rendah Karbon Lewat Kerja Sama PIS-PGN

18 April 2026

 


ANTARAsatu.com | JAKARTA - Di tengah urgensi transisi energi global, dua pilar utama Pertamina Group, PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), mempererat kongsi strategis. Kolaborasi ini bukan sekadar urusan logistik biasa, namun langkah besar dalam membangun ekosistem energi rendah karbon yang mandiri di Indonesia.


Sinergi itu dikukuhkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Direktur Utama PIS Surya Tri Harto dan Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto pada Jumat pekan lalu. Kesepakatan ini memayungi pembangunan infrastruktur, pengelolaan moda pengangkutan maritim, hingga penyediaan kargo untuk komoditas masa depan seperti Liquefied Natural Gas (LNG), amonia hingga hidrogen.

Bagi PIS, kerja sama ini adalah bagian dari strategi diversifikasi kargo dan penguatan armada. Namun lebih dari itu, Direktur Utama PIS Surya Tri Harto menegaskan pentingnya penguasaan aset untuk menciptakan nilai optimal bagi grup.

"Kita bicara tentang optimal value untuk Pertamina Group. Dengan memiliki infrastruktur transportasi gas sendiri, termasuk aset terapung (floating storage), kita bisa memitigasi risiko fluktuasi harga pasar dalam jangka panjang," ujarnya.

Langkah investasi bersama ini dipandang sebagai benteng perlindungan dari volatilitas biaya sewa kapal global yang kerap tidak menentu. Sekaligus memastikan efisiensi dalam distribusi energi rendah emisi ke seluruh pelosok negeri.

Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto melihat kolaborasi ini sebagai eskalasi dari hubungan bisnis yang sudah terjalin. Sejak tahun 2024, PIS tercatat telah melakukan 17 kali pengangkutan LNG untuk PGN menuju FSRU Lampung, Jawa Barat dan Terminal Arun melalui skema spot charter.

Kini kerja sama itu bertransformasi menjadi kemitraan strategis di sektor midstream hingga downstream. Arief memproyeksikan porsi LNG dalam bauran energi nasional akan melonjak drastis di masa depan.

"Kita tidak ingin hanya menjadi penonton di tengah masifnya penggunaan LNG ke depan. Pertamina Group harus memiliki infrastruktur yang matang dan kepemilikan aset yang kuat. Ini adalah persiapan kita menyongsong era LNG," ungkapnya.

Selain fokus pada LNG, tim kerja yang dibentuk dari hasil MoU ini juga akan menjajaki proyek konkret pada komoditas energi baru lain. Amonia dan hidrogen menjadi target jangka panjang yang krusial dalam peta jalan net zero emission Indonesia.

Pengembangan infrastruktur pendukung energi hijau ini diharapkan mampu memperkuat peran Pertamina sebagai penyedia solusi energi yang terintegrasi. Bukan hanya soal ketahanan pasokan, sinergi ini juga pembuktian bahwa BUMN energi Indonesia mulai beralih dari dominasi fosil menuju portofolio yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Dengan terbentuknya tim khusus untuk menindaklanjuti proyek ini, Pertamina Group memberi sinyal kuat kepada pasar. Transisi energi bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, namun juga pembangunan fisik yang sedang dipacu di atas lautan Indonesia.