Selat Hormuz.
ANTARAsatu.com | MEDAN – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengancam stabilitas ekonomi global. Iran secara resmi menutup Selat Hormuz seiring makin memanasnya ketegangan antara Teheran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Langkah drastis ini langsung memicu guncangan hebat pada pasar energi dunia dalam tiga hari terakhir.
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak signifikan.
Tercatat pada 26 Februari lalu, WTI masih berada di level US$63 per barel, namun kini telah menembus angka US$70,82 per barel. Kenaikan serupa juga dialami oleh minyak mentah jenis Brent yang melambung dari kisaran US$69 menjadi US$77 per barel.
"Angka ini sekaligus mencatatkan rekor kenaikan tertinggi Brent dalam satu tahun terakhir," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), di Medan, Selasa (2/3).
Dia melihat penutupan Selat Hormuz menjadi pukulan telak bagi distribusi energi dunia. Sebagai jalur krusial, selat ini menyuplai sekitar 15% hingga 20% kebutuhan minyak dan gas global.
Selama ketegangan militer masih berlangsung dan jalur distribusi terancam, harga minyak diprediksi akan sulit melandai. Kondisi ini, kara dia, membangkitkan ingatan pada krisis energi tahun 2022, saat operasi militer Rusia ke Ukraina melambungkan harga minyak hingga US$120 per barel.
Saat ini, dengan proyeksi operasi militer AS ke Iran yang diperkirakan berlangsung selama empat minggu, ancaman penutupan Selat Hormuz dalam durasi yang sama menjadi sangat terbuka. Jika asumsi perang empat minggu ini terjadi, maka harga minyak mentah dunia berpeluang besar tertahan di level tinggi sepanjang periode tersebut.
Imbasnya, penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai belahan dunia menjadi kenyataan, termasuk Indonesia. Bagi Indonesia, tren kenaikan harga minyak mentah dunia ini sudah cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga BBM non-subsidi dalam waktu dekat.
Tidak hanya itu, guncangan di pasar global ini dipastikan akan menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam mengevaluasi harga BBM subsidi. Meski keputusan akhir berada di tangan pemerintah, kenaikan harga minyak mentah yang konsisten ini mulai mengancam ketahanan keuangan negara.
"Tekanan inflasi global yang mulai menjalar ke sektor domestik berpotensi menurunkan daya beli masyarakat jika kenaikan harga energi tidak segera dimitigasi," pungkasnya.
