google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Bawang Merah di Sumut Melonjak 67% dalam Sebulan

Advertisement

Harga Bawang Merah di Sumut Melonjak 67% dalam Sebulan

03 Agustus 2025

 

Penjualan bawang merah di Pasar Petisah, Medan.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga bawang merah tercatat sebagai komoditas penyumbang inflasi terbesar di Sumut selama Juli 2025. Berdasarkan data, inflasi Sumut mencapai 0,76% dengan lonjakan harga bawang merah yang paling signifikan, yakni 67% dibandingkan bulan sebelumnya.


Pada Juni lalu, harga bawang merah rata-rata ditransaksikan di kisaran Rp30.000 per kilogram. Namun, berdasarkan sampel pedagang yang sama pada Juli, harga komoditas ini melonjak hingga Rp50.000 per kilogram.


Secara rata-rata, kenaikan harga bawang merah tercatat sebesar 17,5%, sesuai pantauan seluruh panel harga termasuk Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Menurut Gunawan Benjamin, Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara, kenaikan harga tersebut dipicu oleh menurunnya pasokan dari Pulau Jawa.


"Saat ini, pasokan bawang merah ke Sumut berasal 80% dari Sumbar dan 20% dari kabupaten sentra produksi lokal, seperti Samosir," ungkapnya.



Dia melihat kondisi itu membuat ketergantungan Sumut terhadap pasokan luar daerah semakin tinggi. Harga yang lebih kompetitif di pasar Jawa juga menyebabkan pasokan dari wilayah tersebut tersendat ke Sumut.


Selain itu, terdapat persoalan mendasar di tingkat produksi lokal. Petani di Sumut mengeluhkan minimnya bibit bawang merah berkualitas yang berdampak langsung terhadap penurunan hasil panen.


Sebelumnya, kata dia, dari 100 kilogram bibit, petani mampu menghasilkan hingga tiga ton bawang merah. Namun kini, dengan penggunaan input yang sama, hasil terbaik hanya berkisar 1,5 ton.


Dalam satu karung bibit berukuran 25–30 kilogram, hanya sekitar 35% bibit yang dinilai layak tanam maksimal. Adapun 65% lainnya tetap bisa ditanam, tetapi hasilnya tidak optimal.


Petani menilai masa semai bibit bawang merah idealnya minimal 120 hari. Bibit yang selama ini digunakan masih bergantung pada suplai dari wilayah Jawa, yang kualitasnya makin menurun.


Akibatnya, terjadi penurunan produksi di tingkat petani, yang kemudian memicu kelangkaan dan lonjakan harga di pasaran. Dengan kondisi ini, lanjut dia, solusi jangka pendek dan jangka panjang seharusnya mulai digulirkan.


Edukasi kepada petani untuk menyemai bibit berkualitas menjadi langkah utama yang direkomendasikannya. Dia menilai masih banyak petani di Sumut belum memahami teknik penyemaian bibit bawang merah yang benar sehingga memerlukan pelatihan intensif.


Pemerintah daerah pun diharapkan berperan aktif memberikan pendampingan teknis. Termasuk mengirim petani belajar langsung ke Jawa sebagai pusat produksi bibit.


Sumut juga perlu melakukan observasi dan seleksi bibit unggul secara lokal agar distribusi bibit berkualitas dapat menjangkau seluruh petani. Jika permasalahan ini teratasi, Sumut berpeluang menjadi daerah swasembada bawang merah dan tidak lagi bergantung pasokan dari luar daerah.


Selain Jawa yang telah memiliki SDM andal di sektor ini, Sumbar juga dinilainya memiliki kapasitas yang mumpuni dalam budidaya bawang merah. Karena itu, Sumbar bisa menjadi mitra strategis untuk pengembangan sektor pertanian Sumut ke depan.