google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Warna-Warni Hutan dalam Tenun Dayak Iban

Advertisement

Warna-Warni Hutan dalam Tenun Dayak Iban

05 Juli 2025

 



WARNA-WARNA liar dari hutan Kalimantan kini menyatu dalam helai tenun ikat Dayak Iban. Tak lagi terpaku pada merah bata dan cokelat, para perempuan penenun mulai meracik biru, pink, hijau sage, hingga kuning mustard dari akar, kulit kayu, daun, bunga, dan buah-buahan.


Tenun ikat Dayak Iban dikenal sebagai kain halus berpewarna alam yang memikat mata. Motif, teknik, dan karakter warna mencerminkan kekayaan budaya yang tumbuh dari tradisi panjang masyarakat Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.


Hingga hari ini, teknik menenun seperti sidan, ikat, sungkit, pileh selam, dan pileh amat masih lestari. Perempuan-perempuan muda Iban terus merawatnya dari generasi ke generasi.


Hardiyanti, peneliti independen dari Mahakarya Tenun, menyebut menenun bagi Dayak Iban bukan sekadar keterampilan tangan. Dalam tenun, mereka menemukan jati diri dan warisan leluhur yang membentuk cara pandang terhadap dunia.


“Lewat tenun, mereka belajar mandiri, membuktikan bahwa pelestarian budaya tak harus tertinggal,” kata Hardiyanti. Ia menyebut tenun menjadi sumber penghidupan, menopang pendidikan dan kebutuhan pribadi para penenun muda.


Eksplorasi warna alam kini menjadi semangat baru dalam proses penciptaan tenun Iban. Pencarian pigmen alami dilakukan di sela pepohonan hutan, meresapi pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.


“Cakrawala warna kini mulai melebar,” ujar Hardiyanti. Perubahan ini tidak menghapus karakter klasik, tapi memperkaya narasi visual dalam sehelai kain.


Penggunaan pewarna alami pun berjalan seiring dengan kesadaran lingkungan. Pemanenan bahan dilakukan bijak agar pohon tetap tumbuh dan tidak rusak.


Kulit kayu diambil berselang-seling, sementara tumbuhan liar seperti kemunting dan putri malu dimanfaatkan secara lestari. Flora hutan bukan sekadar sumber warna, melainkan juga simbol harmoni dengan alam.


Dalam satu helai kain tenun, tersimpan ketekunan, rasa hormat pada alam, dan kebanggaan akan identitas. Di setiap simpul dan ikatan benang, para penenun muda Iban merajut masa depan tanpa meninggalkan akar tradisi.