google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Didorong Kebutuhan Militer AS-Iran, Karet Berpeluang Terus Menanjak

Advertisement

Didorong Kebutuhan Militer AS-Iran, Karet Berpeluang Terus Menanjak

11 September 2026


ANTARASATU.COM | Medan - Harga karet dunia dilaporkan kembali merangkak naik menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat. Harga karet alam saat ini mulai mendekati level yang pernah terbentuk pada 2013 lalu.

Ekonom Sumatra Utara Gunawan Benjamin mengungkapkan, saat ini karet alam dunia ditransaksikan di kisaran US$2,49 per kilogram. Tren kenaikan ini berjalan seiring dengan lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka di atas US$100 per barel.

Menurutnya, komoditas karet kerap mendapat dampak positif tiap kali ketegangan geopolitik meningkat.

"Sedari awal harga karet kerap diuntungkan manakala terjadi eskalasi konflik yang memanas, karena permintaan karet untuk kebutuhan militer mengalami peningkatan," ujar Gunawan, di Medan, Kamis (10/9).

Selain faktor permintaan militer, lonjakan harga minyak mentah turut menjadi penggerak utama. Gunawan melihat fenomena ini terjadi akibat positive cross-price elasticity of demand.

Yang mana kenaikan harga minyak mentah mendorong permintaan terhadap komoditas substitusi, seperti karet alam terhadap karet sintetis berbahan baku minyak. Pada akhirnya mengatrol harga karet secara keseluruhan.

Dia memeroyeksikan jika konflik Iran dan AS berlanjut hingga akhir masa kepemimpinan Presiden AS Donald Trump, secara fundamental harga karet berpeluang terus menanjak. Setidaknya bertahan di level tinggi.

Secara historis, rekor harga karet tertinggi pernah tercipta pada Agustus 2011 di level US$4,7 per kilogram. Kendati demikia Gunawan mengingatkan, sejak 2011 harga karet belum pernah lagi menyentuh rekor itu.

Terutama karena tingginya harga sempat memicu peralihan konsumsi industri ke karet sintetis. Meski begitu, potensi penguatan harga ke depan masih sangat terbuka.

"Ada beberapa faktor yang berpeluang menjadi pemicu kenaikan harga karet ke depan. Salah satunya adalah eskalasi konflik yang bisa saja kian memburuk, serta faktor lain seperti gangguan cuaca yang bisa menekan produksi," terangnya.