google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Serangan AS dan Kenaikan Harga Minyak Kembali Hempaskan Rupiah

Advertisement

Serangan AS dan Kenaikan Harga Minyak Kembali Hempaskan Rupiah

31 Agustus 2026


ANTARASATU.COM | Medan - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga ditutup melemah di level Rp 17.710 per dolar AS pada perdagangan Senin (31/8). Pelemahan mata uang Garuda dinilai terjadi akibat kombinasi sentimen negatif dari melambungnya harga minyak mentah dunia serta eskalasi konflik geopolitik setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Analis Pasar Keuangan dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin melihat sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak meliuk dalam rentang yang relatif terbatas. Yakni antara Rp17.710 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Pergerakan yang tertahan ini dipengaruhi oleh posisi USD Index serta imbal hasil (yield) US Treasury yang terpantau relatif stabil di pasar global. Sedangkan tekanan berat terhadap rupiah tak lepas dari lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang telah menembus kisaran US$91 per barel pada sore hari.

"Ketegangan politik yang memanas di Timur Tengah pasca-serangan AS juga memberikan sinyal buruk bagi ekspektasi inflasi global ke depan," ungkapnya, di Medan, Senin (31/8).

Kondisi itu dikhawatirkan memicu lonjakan harga barang (cost-push inflation) yang berpotensi memutarbalikan arah kebijakan moneter bank sentral dunia kembali ke rezim pengetatan. Spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan pun kembali mencuat di kalangan pelaku pasar.

Terlebih, konfrontasi geopolitik ini berisiko meluas dan melibatkan negara mitra dagang utama Iran seperti China dan Rusia. Di tengah gempuran sentimen negatif pasar mata uang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan daya tahan.

IHSG dinilai berhasil keluar dari tekanan dan ditutup menguat tipis 0,11% ke level 6.525,478. Pada sesi pertama perdagangan IHSG sempat tergerus hingga menyentuh level 6.476. Namun, aksi beli investor menjelang akhir perdagangan dinilai mendorong IHSG naik hingga mencapai level 6.528.

Penguatan IHSG menurut dia ditopang oleh kenaikan sejumlah emiten perbankan dan tambang. Seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) serta PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Sementara itu, harga emas dunia bergerak stagnan dan tertahan di kisaran US$4.441 per ons troy. Angka itu setara dengan Rp 2,54 juta per gram.

Pergerakan logam mulia dinilai kesulitan untuk bangkit setelah tertekan pada sesi perdagangan waktu Amerika. Terbebani oleh berlanjutnya tren reli harga minyak mentah dunia.