Ilustrasi.
ANTARASATU.COM | Medan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan ke zona merah seiring melemahnya mayoritas bursa saham di kawasan Asia pada perdagangan Kamis (6/8). Di sisi lain, harga emas dunia melambung tinggi didorong oleh dinamika geopolitik global.
IHSG ditutup melemah 0,12% ke level 6.343,711 setelah bergerak dalam rentang harian 6.324 hingga 6.388. Penurunan indeks diseret oleh melemahnya sejumlah emiten berkapitalisasi besar.
Di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Timah Tbk (TINS), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), hingga PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Analis Pasar Modal dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, pergerakan pasar keuangan domestik ini sangat dipengaruhi oleh dinamika kawasan eksternal.
"Penguatan mata uang rupiah dan pergerakan IHSG banyak didorong oleh sentimen regional, di tengah minimnya rilis agenda ekonomi penting pada hari ini," ujarnya, di Medan, Kamis (6/8).
Di pasar komoditas energi, harga minyak mentah jenis Brent bertahan stabil di posisi US$80 per barel. Pergerakan stabil ini terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar terkait kepastian lalu lintas di Selat Hormuz.
Seiring adanya dorongan internasional agar pihak yang bertikai kembali menggelar negosiasi. Respons positif atas upaya diplomasi itu turut menjaga kinerja sektor keuangan domestik tetap terukur.
Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp17.910 per dolar AS. Pergerakan mata uang Garuda memanfaatkan tekanan yang dialami indeks dolar AS (USD Index).
Adapun harga emas dunia melonjak tajam ke tingkat US$4.268 per ons troy, atau naik sekitar 2,47% per gram. Kenaikan pesat logam mulia ini terdorong oleh keyakinan pejabat Amerika Serikat bahwa kesepakatan dengan Iran akan terealisasi dalam waktu dekat.
Gunawan meyakini para investor masih bersikap cermat dan waspada terhadap prospek kesepakatan geopolitik itu. Investor diperkirakan akan tetap berhati-hati dengan kesepakatan yang mungkin tercipta dalam waktu dekat mengingat kesepakatan yang pernah tercapai sebelumnya tidak menggaransi adanya perdamaian dalam jangka waktu lama.
