Nanik Sudaryati Deyang.
ANTARASATU.COM | JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri dari jabatannya, Rabu (22/7). Mundurnya Nanik terjadi setelah masa kepemimpinannya baru berjalan sekitar 50 hari, dengan alasan kondisi kesehatan.
Nanik Sudaryati Deyang resmi menduduki kursi Kepala BGN setelah ditunjuk dan dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada 8 Juni 2026. Dia menggantikan pejabat sebelumnya, Dadan Hindayana, yang tersangkut kasus hukum.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan Dirgayuza Setiawan, menyatakan, Nanik telah berpamitan secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu pagi. Dalam pertemuan itu Nanik menyampaikan permohonan izin untuk berobat sekaligus keputusan melepas jabatannya sebagai pimpinan BGN.
"Hari ini, 22 Juli 2026, Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung. Beliau juga mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional," ungkap Dirga, Rabu (22/7).
Informasi serupa disampaikan Nanik melalui akun media sosial pribadinya. Ia mengungkapkan bahwa kondisi fisik yang tidak memungkinkan menjadi alasan utamanya mundur dari lembaga yang mengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN demi kesehatan saya," tulis Nanik.
Menurut Nanik, Presiden Prabowo memahami keputusan tersebut. Ia menyebut Presiden bahkan memintanya untuk tetap ikut mengawasi perkembangan BGN meski tidak lagi menjabat sebagai kepala.
Nanik menambahkan, keberangkatannya ke luar negeri bertujuan untuk berobat sekaligus mencari pendapat medis kedua (second opinion). Namun dia menepis anggapan bahwa langkah itu merupakan bentuk ketidakpercayaan terhadap fasilitas kesehatan di dalam negeri.
Selama 50 hari memimpin, ia disebut-sebut menginisiasi sejumlah evaluasi terhadap pelaksanaan Program MNG. BGN di bawah kepemimpinan Nanik mengevaluasi hampir 28 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta mengklasifikasikan sekitar 3.000 dapur berdasarkan standar mutu.
Kemudian menghentikan ekspansi dapur di wilayah yang dinilai jenuh dan membentuk tim reformasi tata kelola lembaga. Langkah-langkah penertiban itu menemukan ratusan SPPG bermasalah yang diklaim berhasil menyelamatkan anggaran negara hingga ratusan miliar rupiah.
Dirgayuza juga mengapresiasi rekam jejak Nanik yang telah dikenal selama lebih dari satu dekade sebagai aktivis pembela kepentingan masyarakat. Termasuk saat mengawal kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Wilfrida Soik di Malaysia serta menggagas program becak listrik bagi lansia.
Hingga Rabu siang, pemerintah belum mengumumkan figur pengganti Nanik.
