Ilustrasi.
ANTARASATU.COM | MEDAN - Pergerakan harga emas dunia masih belum menunjukkan arah yang jelas. Di tengah penguatan rupiah dan pasar saham domestik, logam mulia itu kembali bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (7/7) akibat minimnya sentimen yang mampu menggerakkan pasar.
Harga emas dunia ditransaksikan di level US$4.125 per ons troi atau sekitar Rp2,39 juta per gram pada penutupan perdagangan. Sehari sebelumnya, harga emas juga relatif stabil di kisaran US$4.142 per ons troi atau sekitar Rp2,4 juta per gram.
Analis Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan harga emas masih bergerak mendatar karena pelaku pasar belum memperoleh katalis baru yang cukup kuat untuk mendorong kenaikan maupun penurunan harga secara signifikan.
"Pergerakan emas masih relatif stabil di tengah minimnya sentimen pasar. Meski dolar AS sempat mengalami tekanan, pengaruhnya terhadap harga emas belum terlalu besar karena investor masih menunggu perkembangan data ekonomi global berikutnya," katanya, di Medan.
Menurut dia, pelemahan dolar Amerika Serikat memang sempat menjadi faktor pendukung bagi harga emas. Namun sentimen tersebut tertahan oleh sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menanti arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat serta perkembangan indikator ekonomi global.
Gunawan meyakini harga emas masih berpotensi bergerak terbatas dalam jangka pendek selama belum ada sentimen baru yang kuat. Menurut dia, perhatian investor kini tertuju pada perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter Federal Reserve yang akan menjadi penentu pergerakan emas dalam beberapa waktu mendatang.
Di pasar domestik, rupiah justru ditutup menguat ke level Rp17.970 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda didorong pelemahan indeks dolar AS serta kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi US$145,6 miliar pada Juni 2026, dari sebelumnya US$144,9 miliar.
Penguatan rupiah turut menopang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup naik 1,19% ke level 5.986,497. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak di zona merah sebelum berbalik menguat dengan dukungan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, ASII dan BBNI.
