google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Rangsangan BI Rate Tak Mempan, Rupiah Loyo Lagi di Akhir Pekan

Advertisement

Rangsangan BI Rate Tak Mempan, Rupiah Loyo Lagi di Akhir Pekan

19 Juni 2026


ANTARASATU.COM | MEDAN - Pelemahan rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan setelah Indonesia bertahan sebagai negara emerging market dalam penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI). Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp17.850 sebelum akhirnya ditutup di posisi Rp17.775 per dolar AS pada akhir perdagangan, Jumat (19/6).

Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari respons pasar terhadap hasil penilaian lembaga indeks global. Termasuk MSCI dan FTSE Russell yang dirilis di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

"MSCI memang memastikan Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market sehingga pasar terhindar dari potensi tekanan yang lebih besar. Namun, rupiah tetap melemah karena pelaku pasar masih mencermati sejumlah risiko eksternal yang belum mereda," kata Gunawan, di Medan.

Menurut dia, keputusan MSCI sejatinya memberi sentimen positif karena mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi keluarnya dana asing dari pasar domestik. Namun sentimen tersebut belum cukup kuat mengangkat nilai tukar rupiah yang sejak awal perdagangan sudah bergerak di zona merah.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi meski Bank Indonesia sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Langkah tersebut sempat mendorong penguatan rupiah sehari sebelumnya, tetapi efeknya tidak bertahan lama.

Gunawan menjelaskan, pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed. Spekulasi mengenai peluang suku bunga AS tetap tinggi membuat investor cenderung mempertahankan aset berbasis dolar AS.

"Selama ekspektasi suku bunga tinggi bertahan, dolar AS akan tetap kuat dan memberi tekanan kepada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ujarnya.

Pelemahan rupiah sempat menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah pada sesi perdagangan pagi. IHSG bahkan menyentuh level 6.117 sebelum berbalik menguat pada sesi kedua.

Pada penutupan perdagangan, IHSG berhasil naik tipis 0,08% ke level 6.177,139. Penguatan indeks ditopang sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BMRI, DSSA, ASII, UNVR dan ISAT.

Selain mencermati perkembangan MSCI dan FTSE Russell, pelaku pasar juga memantau pergerakan harga emas dunia yang kembali melemah ke kisaran US$4.153 per ons troi atau sekitar Rp2,38 juta per gram. Menurut Gunawan, pelemahan harga emas menunjukkan fokus investor saat ini lebih tertuju pada prospek suku bunga global dibanding aset lindung nilai.

"Untuk jangka pendek, volatilitas rupiah masih akan tinggi karena pasar belum mendapatkan kepastian terkait arah kebijakan moneter global," kata Gunawan.