google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Pertamina Dorong Tenun Ulos Samosir Jadi Produk Fesyen Pasar Global

Advertisement

Pertamina Dorong Tenun Ulos Samosir Jadi Produk Fesyen Pasar Global

13 Mei 2026


ANTARAsatu.com | SAMOSIR - Di sebuah galeri sederhana di kawasan Danau Toba, suara alat tenun masih terdengar nyaris setiap hari. Dari tangan para penenun lokal di Kabupaten Samosir, Sumut, kain ulos kini tak hanya hadir sebagai perlengkapan adat, tetapi mulai berkembang menjadi produk fesyen yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Perubahan itu terlihat di Sakkamadeha Gallery and Workshop, usaha tenun yang berada di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Di tempat ini, kain ulos diolah menjadi berbagai produk siap pakai seperti pakaian kasual, kemeja, hingga aksesori yang menyasar kalangan anak muda.

Nama Sakkamadeha sendiri berarti “Pohon Kehidupan” dalam bahasa Batak. Bagi pendirinya, Stella Florensia Hutajulu, nama tersebut mencerminkan harapan agar budaya lokal tetap hidup sekaligus mampu memberi penghidupan bagi masyarakat sekitar.

“Di galeri ini, kami tidak hanya menjual kain tenun, tetapi juga mengolahnya menjadi produk siap pakai seperti pakaian kasual. Jadi ulos bisa lebih fleksibel digunakan sehari-hari,” ujar Stella.

Sejak menjadi mitra binaan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut pada 2020, usaha tersebut terus berkembang. Kini Sakkamadeha memberdayakan sekitar 70 penenun lokal, mulai dari ibu rumah tangga, anak muda, hingga perajin dari luar daerah.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, dukungan kepada UMKM berbasis budaya lokal menjadi bagian dari upaya perusahaan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Menurutnya, pengembangan usaha tenun seperti Sakkamadeha tidak hanya menjaga warisan budaya tetap hidup. Namun juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata Danau Toba.

Selain memiliki sentra produksi tenun, Sakkamadeha juga mengembangkan galeri penjualan dan rumah jahit untuk mendukung pengolahan produk jadi. Harga kain tenun yang dijual berkisar Rp300 ribu hingga Rp2 jutaan, sedangkan produk pakaian dibanderol mulai Rp50 ribu sampai Rp500 ribu.

Untuk memperluas pasar, Sakkamadeha mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan aktif memanfaatkan media sosial melalui Instagram serta Facebook. Mereka juga rutin melakukan siaran langsung untuk memperkenalkan produk kepada pelanggan di luar Sumatera Utara.

Dukungan promosi juga datang melalui keterlibatan dalam berbagai pameran nasional, termasuk ajang F1 Powerboat World Championship di Danau Toba. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk ulos kepada wisatawan dan pasar yang lebih luas.

Stella berharap produk berbasis ulos dari Samosir semakin dikenal hingga mampu menembus pasar internasional.

“Harapannya kami bisa terus berkembang dan membawa produk lokal ini semakin dikenal, tidak hanya di Sumatera Utara tetapi juga hingga ke pasar global,” katanya.