google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Perdamaian Rapuh Timur Tengah Bikin IHSG Ambruk Lagi

Advertisement

Perdamaian Rapuh Timur Tengah Bikin IHSG Ambruk Lagi

29 Juni 2026


ANTARASATU.COM | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (29/6) meski sejumlah sentimen positif mewarnai pasar. IHSG ditutup melemah 1,28% ke level 5.820,790 setelah sempat menyentuh level psikologis 5.800.

Pelemahan IHSG terjadi ketika mayoritas bursa saham di Asia justru ditutup menguat. Bahkan, penguatan nilai tukar rupiah juga gagal mengangkat pergerakan pasar saham domestik.

Analis pasar keuangan dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Menurut dia, perjanjian damai yang sempat disepakati oleh pihak-pihak yang bertikai belum cukup meyakinkan pelaku pasar.

"Perjanjian damai sejauh ini dinilai sangat rapuh dan masih sangat rentan memicu perang yang lebih besar. Kondisi ini membuat pelaku pasar memilih berhati-hati sehingga menekan pergerakan IHSG," katanya, di Medan.

Ia menjelaskan, perhatian investor saat ini juga tertuju pada harga minyak mentah dunia. Ketika konflik kembali memanas, harga minyak sempat bergerak naik ke kisaran US$ 70 hingga US$ 72 per barel.

Situasi pasar saat ini menurut dia masih memungkinkan adanya kenaikan harga minyak. Jika itu terjadi, tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk pasar domestik, berpotensi semakin besar.

Di pasar valuta asing, rupiah justru menunjukkan penguatan. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.835 per dolar AS dan sepanjang perdagangan bergerak di kisaran Rp17.835 hingga Rp17.865 per dolar AS.

Menurut Gunawan, penguatan rupiah didorong oleh melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan memburuknya indeks dolar AS yang bergerak di kisaran 101,2.

Namun, sentimen positif itu belum mampu membendung tekanan di pasar saham. Rupiah dan IHSG dinilai masih sangat rentan mengalami koreksi dalam jangka pendek karena ketidakpastian geopolitik belum benar-benar mereda.

Sementara itu, harga emas dunia diperdagangkan melemah tipis ke level US$ 4.030 per ons troy atau sekitar Rp2,32 juta per gram. Meski masih berkonsolidasi di kisaran US$ 4.000 per ons troy, Gunawan menilai secara fundamental harga emas masih berpeluang menguat.

"Terutama jika ketidakpastian global dan risiko inflasi kembali meningkat," pungkasnya.