google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Rupiah Terpuruk, Ekonom: Pemerintah Harus Pertebal Subsidi Pangan dan BBM

Advertisement

Rupiah Terpuruk, Ekonom: Pemerintah Harus Pertebal Subsidi Pangan dan BBM

24 April 2026

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kian mengkhawatirkan. Mata uang Garuda sudah menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.300 per US Dolar.


Kondisi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Namun sudah menjadi alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional, terutama sektor pangan dan energi.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai, kombinasi sentimen negatif sedang mengepung pasar keuangan Tanah Air. Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi motor utama pelemahan ini, terlebih, langkah AS mencegat kapal tanker Iran di perairan Asia baru-baru ini kian memperkeruh suasana.


"Seketika sentimen ekonomi memburuk dan membuat Rupiah terpuruk. Pelemahan ini berpeluang memicu komplikasi ekonomi lain, yang mana sektor pangan menjadi sangat rentan mengalami gangguan," ungkapnya, di Medan, Jumat (24/4/2026).


Gunawan memperingatkan bahwa krisis kali ini bukan hanya soal lonjakan harga atau inflasi, melainkan risiko kelangkaan barang. Terputusnya jalur distribusi di Selat Hormuz berpotensi memutus pasokan bahan baku plastik, pasokan BBM, hingga LPG.


Dampaknya akan merembet pada kenaikan biaya logistik dan meroketnya harga bahan baku impor. Mulai dari kedelai, sapi bakalan, ayam indukan (grand parent stock), hingga input pertanian seperti pupuk dan pestisida.


"Kita tidak bisa hanya fokus pada kenaikan harga kebutuhan impor yang menjulang tinggi. Masalah kelangkaan memiliki dampak yang jauh lebih buruk. Saat ini gangguan pasokan sudah mulai terasa seiring kenaikan harga plastik," paparnya.


Menyikapi situasi yang kian genting, Gunawan menyarankan agar pemerintah segera mengalihkan fokus pada stabilitas pasokan dan harga pangan. Ruang fiskal harus diperlebar untuk memberi proteksi ke masyarakat kelas bawah melalui kebijakan subsidi yang tepat sasaran.


Beberapa langkah mitigasi yang diusulkan salah satunya diversifikasi pangan. Yakni mendorong konsumsi lokal, seperti ubi, dengan metode penyimpanan modern untuk menekan ketergantungan pada pupuk impor.


Kemudian memproteksi petani, menjaga kemampuan petani untuk tetap mampu bercocok tanam di tengah mahalnya harga plastik mulsa dan pupuk. Lalu penebalan subsidi, intervensi fiskal untuk konsumen yang terdampak langsung oleh kenaikan harga kebutuhan dasar.


"Dinamika geopolitik kian memburuk dan terusik. Kenyamanan ekonomi kita sekarang sangat ditentukan oleh tensi di Selat Hormuz. Pemerintah harus bergerak cepat agar fiskal kita mampu beradaptasi dengan dimensi krisis baru ini," pungkas Gunawan.