google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Plastik Mahal, Ukuran Tempe Mengecil: Sinyal Bahaya Inflasi April

Advertisement

Plastik Mahal, Ukuran Tempe Mengecil: Sinyal Bahaya Inflasi April

02 April 2026

 

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MEDAN – Tren deflasi sebesar 0,13% yang sempat dinikmati Sumatra Utara pada Maret lalu diprediksi bakal berakhir singkat. Memasuki bulan April, awan mendung inflasi mulai membayangi dipicu oleh kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) yang kian mencekik para pelaku usaha kecil dan petani.

Fenomena ini terekam jelas di pasar-pasar tradisional. Sejumlah produsen tempe mulai mengeluhkan lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai 25%. Tak ingin kehilangan pelanggan akibat menaikkan harga jual, para pengrajin tempe terpaksa mengambil langkah pragmatis, yakni memperkecil ukuran produk.

“Strategi ukuran ini menjadi pilihan pahit agar operasional tetap berjalan di tengah mahalnya bahan baku penunjang,” ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara, Kamis (2/4/2026).

Kenaikan harga plastik dan pupuk non-subsidi belakangan ini disinyalir merupakan dampak transmisi dari konflik global yang tak kunjung mereda. Perang menyebabkan biaya logistik melambung dan harga bahan baku industri, yang berbasis minyak bumi, ikut terkerek naik.

Kondisi ini menciptakan kekhawatiran baru karena inflasi yang terjadi saat ini bukan lagi dipicu oleh tingginya permintaan (demand), melainkan tekanan dari sisi produksi. Jika HPP terus merangkak naik, maka kenaikan harga barang di tingkat konsumen akan bersifat lebih permanen.

Tak hanya perajin tempe, para petani cabai di Sumut juga kini berada di ujung tanduk. Di saat harga jual cabai sedang murah di pasaran, mereka justru dihantam kenaikan harga sarana produksi, seperti plastik mulsa dan pupuk.

Menghadapi situasi ini para petani mulai berencana mengurangi luas areal tanam untuk menekan kerugian. Jika luas tanam berkurang, stok pangan di masa depan terancam langka, yang ujung-ujungnya akan memicu ledakan inflasi lebih tinggi di bulan-bulan mendatang.

Pemerintah, kata Gunawan, sebenarnya telah berupaya meredam gejolak ini. Penyaluran bantuan sosial (bansos) berupa beras dan minyak goreng melalui Bulog pada bulan April ini diharapkan memberi napas bagi rumah tangga.

Dengan kebutuhan pokok yang terpenuhi lewat bansos, masyarakat memiliki sisa anggaran untuk konsumsi lainnya. Namun, hal ini bisa menjadi pisau bermata dua, naiknya daya beli di satu sisi juga berpeluang mendorong kenaikan harga dari sisi permintaan.

Namun demikian, laju inflasi Sumut pada April nanti diperkirakannya masih akan terjaga di bawah 0,23%. Meski begitu, pemerintah daerah diminta tetap waspada dan tidak terlena dengan pencapaian bulan lalu.

"Gambaran akurat mengenai seberapa besar ledakan inflasi ini baru akan terlihat jelas pada pekan ketiga atau keempat April mendatang," pungkasnya.