google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Saham Blue Chip Rontok, Rupiah Terkapar Dekati Level Psikologis

Advertisement

Saham Blue Chip Rontok, Rupiah Terkapar Dekati Level Psikologis

27 Maret 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Pasar keuangan Indonesia menutup akhir pekan dengan rapor merah yang menyakitkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab di zona merah sepanjang perdagangan Jumat (27/3/2026), ditutup melemah 0,94% ke level 7.097,057.


Kejatuhan ini menyeret barisan saham unggulan atau blue chip yang biasanya menjadi bantalan pasar. Saham-saham perbankan raksasa seperti BBCA, BBRI, BMRI, hingga BBNI terpantau kompak berguguran.


Tak ketinggalan, emiten telekomunikasi pelat merah TLKM turut memperberat koreksi indeks. Loyonya sektor finansial ini menjadi sinyal kuat bahwa investor raksasa sedang memilih untuk "tiarap".


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, tekanan pada IHSG kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen global yang mencekik. Salah satu pemicu utama yang cukup mengejutkan pasar adalah kabar mengenai tertahannya dua kapal tanker milik Pertamina di Selat Hormuz.


"Kabar tertahannya kapal tanker ini menjadi sentimen negatif yang cukup kuat di akhir pekan. Pasar melihat adanya risiko gangguan pasokan energi yang bisa berdampak luas," ujarnya, di Medan 


Kondisi di pasar modal setali tiga uang dengan pasar valuta asing. Mata uang Garuda tampak tak bertenaga dan "terkapar" mendekati level psikologis yang mencemaskan.


Rupiah ditutup melemah ke level 16.960 per Dolar AS, hanya selisih tipis dari angka 17.000. Menurut Gunawan, pelemahan Rupiah ini sangat dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah dunia.


Harga minyak jenis Brent kini sudah menanjak naik ke kisaran $109,7 per barel. Menurut dia, kenaikan harga minyak dunia pada dasarnya menjadi sentimen negatif bagi pasar domestik kita.


Tekanan pada neraca dagang akibat impor energi membuat posisi Rupiah kian terdesak. Menariknya, performa IHSG hari ini tergolong anomali jika dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di Asia yang masih mampu menutup perdagangan di zona hijau.


Gunawan menilai koreksi ini sebenarnya wajar setelah penguatan yang terjadi pada Rabu lalu, tetapi faktor eksternal memperparah keadaan. Selain minyak Brent, lonjakan harga emas atau "minyak mentah" dalam terminologi investasi tertentu (emas fisik/komoditas) juga mencatat kenaikan signifikan hingga menyentuh level Rp 2,4 juta per gram.


"Investor saat ini cenderung beralih ke aset aman atau safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz. IHSG pun terpaksa menyesuaikan diri dengan risiko-risiko tersebut," pungkas Gunawan.