google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Agresi AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Plastik, Biaya Produksi Tercekik

Advertisement

Agresi AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Plastik, Biaya Produksi Tercekik

10 April 2026

 

Ilustrasi pembuatan kemasan plastik.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Di balik riuh rendah fluktuasi pasar, ancaman senyap mulai menghantui meja makan masyarakat. Kenaikan harga plastik yang kian tak terkendali.

Kenaikan harga plastik bahkan kini dinilai bukan lagi sekadar keluhan di tingkat pengecer. Namun sudah menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas harga pangan nasional.

Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin melihat fenomena ini sebagai imbas domino dari ketidakpastian global. Menurut pengamatannya di lapangan, kenaikan harga plastik kemasan, terutama jenis curah, sangat signifikan.

"Kenaikannya beragam, mulai dari 12,5% hingga menyentuh angka fantastis 77%," ujarnya, di Medan, Jumat (10/4/2026).

Kenaikan ini dianggap menjadi pukulan telak bagi pelaku UMKM hingga industri besar. Dewasa ini plastik bukan hanya sebagai pembungkus, tetapi juga sudah menjadi komponen produksi yang krusial.

Gunawan mencontohkan, komoditas minyak goreng yang kini kian mahal. Selain dipicu kenaikan bahan baku CPO, melambungnya harga plastik turut mendongkrak Harga Pokok Produksi (HPP).

Kondisi ini disebabkan kelangkaan bahan baku plastik akibat agresi AS-Israel ke Iran. Jika perang terus berlanjut, imbas kenaikan harga bahan baku dan logistik diyakini akan memicu kenaikan harga pangan.

Meski harga sejumlah komoditas seperti cabai, bawang dan beras saat ini terpantau masih relatif stabil. Namun Gunawan memperingatkan adanya potensi ledakan harga pangan jika pemerintah abai melakukan mitigasi.

Gunawan menjelaskan, dalam kondisi ini terdapat beberapa faktor risiko yang saling mengunci. Yakni siklus pasokan, di mana masa panen yang berganti berisiko menurunkan stok pangan di pasar.

Kemudian ketergantungan impor, seperti harga daging sapi, ayam dan telur yang sangat dipengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap harga pakan impor. Lalu faktor alam dengan fenomena El Nino yang mengancam produksi tanaman pangan.

Berikutnya, modal petani. Rendahnya harga jual produk pertanian belakangan ini membuat petani kesulitan modal untuk bercocok tanam kembali. Akibatnya, sektor akomodasi makanan dan minuman berpeluang menciptakan ledakan harga.

"Kondisi akan kian memburuk jika pemerintah nantinya menyesuaikan harga BBM atau mengurangi subsidi," tambahnya.

Karena itu dia mendesak pemerintah segera menyiapkan kebijakan taktis untuk mengerem potensi ledakan harga tersebut. Mengingat perang yang masih menciptakan ketidakpastian, mitigasi bukan lagi pilihan, tetapi suatu keharusan untuk menjaga daya beli masyarakat.