google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Kemenkeu Ungkap Kunci Daya Tahan Fiskal RI meski Harga Minyak Meroket akibat Agresi AS-Israel

Advertisement

Kemenkeu Ungkap Kunci Daya Tahan Fiskal RI meski Harga Minyak Meroket akibat Agresi AS-Israel

09 Maret 2026

 

Kapal tanker Pertamina.


ANTARAsatu.com | JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah badai ketidakpastian global. Meski harga minyak dunia berpotensi meroket akibat agresi AS-Israel ke Iran, pemerintah mengklaim APBN dikelola secara prudent dan fleksibel untuk meredam dampak tersebut.


Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario matang untuk menjaga stabilitas fiskal. Ia menjamin postur APBN saat ini masih sangat mumpuni menghadapi fluktuasi harga energi global.


"Fiskal Indonesia masih mampu mengantisipasi kenaikan harga minyak hingga level US$80-90 per barel dengan defisit yang tetap terjaga di bawah 3%," ujarnya di Jakarta, Senin (9/3).


Juda memaparkan, modal utama Indonesia menghadapi guncangan global adalah ketahanan domestik yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat stabil di angka 5,11%, dengan lonjakan pada triwulan IV mencapai 5,39%.


Selain pertumbuhan, disiplin fiskal menjadi kunci utama. Defisit anggaran hingga saat ini berhasil ditekan pada level 2,92%, selaras dengan amanat Undang-Undang Keuangan Negara.


"Fundamental ekonomi kita masih kuat dan resilient. Pertumbuhan tetap terjaga, inflasi terkendali, dan rasio utang terhadap PDB masih aman di kisaran 40%, jauh di bawah batas maksimal 60%," imbuhnya.


Di tengah upaya menjaga stabilitas energi, Juda mengingatkan pentingnya akselerasi pertumbuhan ekonomi hingga 8% demi mencapai target Indonesia Maju 2045. Menurutnya, momentum bonus demografi yang akan berakhir pada 2040 harus dimanfaatkan secara maksimal.


"Kalau kita melewatkan periode ini, kita berisiko menjadi negara yang tua sebelum kaya. Maka, APBN 2026 diarahkan untuk pembangunan jangka panjang dengan belanja mencapai Rp3.847 triliun," ungkapnya.


Menatap tahun 2026, Kemenkeu optimistis ekonomi triwulan I akan melaju kencang dengan baseline 5,5%. Didorong oleh momentum Ramadan dan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) yang akan memperkuat konsumsi domestik sebagai bantalan ekonomi nasional.