google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Iran Bersiap Tutup Selat Hormuz, Ancaman Perang Dunia III di Depan Mata

Advertisement

Iran Bersiap Tutup Selat Hormuz, Ancaman Perang Dunia III di Depan Mata

02 Maret 2026

 

Selat Hormuz. (IG @forbesmiddleeast)


ANTARAsatu.com | TEHERAN – Gejolak di Timur Tengah mencapai titik nadir yang paling mengkhawatirkan sepanjang sejarah modern. Pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam eskalasi konflik berdarah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel beberapa hari lalu, Parlemen Iran kini mendorong langkah ekstrem: penutupan total Selat Hormuz.


Langkah ini bukan sekadar gertakan politik biasa. Jika direalisasikan, ini akan menjadi kali pertama Republik Islam Iran benar-benar mengunci "urat nadi" energi dunia sejak revolusi 1979. Dunia menahan napas, memantau apakah Teheran akan menekan tombol penghancur ekonomi global tersebut.


Laporan dari Teheran menyebutkan bahwa Parlemen Iran telah memberi dukungan penuh atas rencana penutupan selat selebar 33 kilometer itu. Meski demikian, keputusan final kini berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran, lansir cnbcindonesia.com, Minggu (1/3).


Secara historis, para analis kerap bersikap skeptis terhadap ancaman serupa. Iran biasanya lebih memilih langkah-langkah terukur untuk menghindari konfrontasi militer langsung dengan kekuatan Barat.


Namun, kematian pimpinan tertinggi mereka telah mengubah peta permainan. Rasa kehilangan yang mendalam dan tekanan domestik untuk melakukan pembalasan setimpal berpotensi mendorong Iran mengambil tindakan yang paling berdampak pada ekonomi global.


Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Ini adalah chokepoint (titik penyumbatan) paling strategis di muka Bumi. Terletak di antara Oman dan Iran, selat ini menghubungkan Teluk Persia yang kaya minyak dengan Teluk Oman dan Laut Arab.


Data tahun 2022 menunjukkan betapa vitalnya jalur ini:


- Minyak Dunia: Sekitar 21 juta barel per hari (bpd) atau setara 22% pasokan minyak global melewati selat ini.


- Gas Alam (LNG): Sekitar 20% perdagangan gas alam cair dunia bergantung pada kelancaran jalur ini.


- Pasar Asia: Sebanyak 82% minyak mentah yang melalui Hormuz dikirim ke Asia, dengan Tiongkok, India, Jepang dan Korea Selatan sebagai tujuan utama.


Jika Selat Hormuz diblokade, rantai pasok energi dunia dipastikan lumpuh. Harga minyak mentah bisa melonjak ke angka yang tak terbayangkan, memicu inflasi global dan melumpuhkan industri di berbagai belahan benua.


Meski sebenarnya langkah menutup selat merupakan pedang bermata dua bagi Teheran. Selat Hormuz juga menjadi jalur utama bagi ekspor minyak Iran sendiri yang menjadi tumpuan ekonomi mereka.


Menutup selat berarti melakukan "bunuh diri ekonomi" sekaligus mengundang intervensi militer skala penuh.


Saat ini, kawasan tersebut telah berubah menjadi "hutan besi". Angkatan Laut AS bersama sekutu NATO terus berpatroli untuk memastikan navigasi tetap terbuka.


Di sisi lain, Iran juga memiliki kekuatan rudal dan ranjau laut yang mematikan di sepanjang pantai utara. Namun selama "Perang Tanker" pada era 1980-an, selat ini tetap terbuka meski dihujani serangan rudal dan ranjau.


Akan tetapi kali ini, dengan gugurnya Khamenei sebagai pemicu, pendekatan Teheran diprediksi akan jauh lebih destruktif dan tidak terduga. Dunia kini hanya bisa menunggu, apakah Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur perdamaian dagang, atau menjadi panggung bagi pecahnya Perang Dunia III.