Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Eskalasi konflik di Timur Tengah akibat agresi militer AS-Israel ke Iran memicu guncangan hebat di pasar keuangan domestik pada perdagangan Senin (9/3). IHSG dan kurs Rupiah kompak melemah tajam, sementara harga emas dunia makin melonjak.
IHSG ditutup merosot 3,27% ke level 7.337,369. Bahkan, pada pertengahan sesi, indeks sempat terpuruk hingga level 7.156 atau anjlok lebih dari 5%. Pelemahan ini searah dengan mayoritas bursa saham Asia yang memerah akibat aksi jual masif pada saham-saham unggulan seperti BBCA, BMRI, BBRI, hingga emiten komoditas seperti MEDC dan ANTM.
Menurut Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin, sentimen negatif ini dipicu oleh ketegangan antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat yang terus meningkat.
"Perang sejauh ini telah memicu tekanan besar di pasar keuangan global. Eskalasinya masih mengalami peningkatan, yang kian diperburuk dengan serangan ke pusat-pusat produksi minyak dunia," ujarnya, di Medan.
Kondisi ini turut memukul kurs Rupiah yang ditransaksikan melemah ke level 16.935 per US Dolar. Di pasar fisik (bank notes), beberapa sumber mencatat harga jual Rupiah bahkan sudah menembus angka psikologis Rp17.000 per US Dolar.
Menurut Gunawan, lonjakan harga minyak mentah dunia di atas $100 per barel menjadi beban berat bagi mata uang Garuda. Namun, ia menilai langkah otoritas moneter cukup sigap dalam meredam gejolak.
"Membaiknya kinerja Rupiah dari titik terendahnya diyakini sebagai hasil intervensi Bank Indonesia (BI) untuk mengurangi tekanan, di tengah melambungnya harga energi global," terangnya.
Di tengah rontoknya pasar saham, harga emas dunia justru mencatatkan kenaikan signifikan pada sesi perdagangan sore. Harga emas meroket ke kisaran $5.110 per ons troy, atau kembali ke level Rp2,8 juta per gram.
Gunawan menyebutkan, selain faktor ketidakpastian global, pergerakan harga emas mendapat sokongan kuat dari aksi korporasi bank sentral. Meskipun ada ancaman inflasi tinggi, kabar bahwa Bank Sentral China kembali membeli emas untuk meningkatkan cadangannya menjadi angin segar bagi harga emas untuk sementara waktu.
