Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terjun bebas sebesar 2,65% ke level 8.016,833 pada perdagangan Senin (2/3). Ambruknya bursa domestik ini dipicu oleh invasi AS dan Israel ke Iran yang menyedot seluruh fokus pasar.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG terus tertahan di zona merah dalam rentang 8.016 hingga 8.133. Pelemahan ini berbanding lurus dengan memburuknya mayoritas bursa saham di Asia.
"Sejumlah emiten kelas berat (blue chip) turut menjadi kontributor utama koreksi, di antaranya BUMI, BBCA, BMRI, BBRI, INDF, TLKM, BBNI, hingga ASII," ungkap Ekonom UISU Gunawan Benjamin di Medan.
Sentimen negatif global ini nyatanya jauh lebih perkasa dibandingkan data ekonomi domestik. Rilis sejumlah data penting seperti angka inflasi maupun neraca perdagangan Tanah Air tidak mampu meredam gejolak pasar.
Pelaku pasar cenderung mengabaikan agenda ekonomi nasional dan lebih memilih melakukan kalkulasi ulang portofolio di tengah memburuknya tensi geopolitik. Kondisi pasar diperparah oleh meroketnya harga minyak mentah dunia.
Kenaikan komoditas energi ini memicu kekhawatiran besar terkait pembentukan harga BBM di dalam negeri serta ancaman inflasi yang menghantui kinerja keuangan nasional.
Dampaknya, mata uang Rupiah ikut terkapar dan ditransaksikan melemah ke level Rp16.855 per US Dolar.
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini menjadi sinyal kuat besarnya ketidakpastian global yang sedang melanda. Di sisi lain, saat pasar modal berdarah-darah, harga emas dunia justru melanjutkan tren penguatan.
Sang aset safe haven sempat menembus level psikologis $5.400 per ons troy. Emas kini ditransaksikan di kisaran $5.393 per ons troy atau setara Rp2,93 juta per gram dan berpeluang mencetak rekor tertinggi baru di level $5.586 per ons troy dalam waktu dekat.
