Perdagangan minyak goreng curah di Pasar Brayan Medan.
ANTARAsatu.com | MEDAN – Agresi militer AS dan Israel terhadap Iran dinilai mulai berdampak pada stabilitas harga pangan di dalam negeri. Harga minyak goreng curah di sejumlah pasar tradisional di Sumut merangkak naik seiring melambungnya harga minyak sawit mentah dunia.
Berdasarkan pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga minyak goreng curah di Sumut mengalami kenaikan sekitar Rp250 per kilogram (kg) hari ini. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp19.200 kini melonjak menjadi Rp19.450 per kg.
Namun, penelusuran lebih mendalam menunjukkan lonjakan di beberapa titik jauh lebih tajam. Yakni dalam rentang Rp500 hingga Rp1.500 per kg.
Kenaikan tertinggi mencapai Rp1.500 per kg ditemukan di Pasar Brayan Kota Medan dan Pasar Aek Habil Kota Sibolga. Sementara di Pasar Petisah Kota Medan, kenaikan terpantau lebih landai di angka Rp500 per kg.
"Kenaikan harga di tingkat lokal ini dipicu oleh melambungnya harga crude palm oil atau CPO dunia," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), di Medan, Selasa (10/3).
Menurut dia, saat ini harga CPO dunia berada di level 4.570 ringgit per ton. Naik signifikan dibandingkan posisi 25 Februari lalu yang masih di angka 4.000 ringgit per ton.
Lonjakan harga CPO ini berbanding lurus dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat mendekati US$120 per barel akibat sentimen perang. Meski hari ini jenis Brent ditransaksikan di kisaran US$93 per barel.
Ekspektasi pasar terhadap peningkatan penggunaan CPO untuk bahan bakar biodiesel seiring mahalnya minyak mentah dinilainya menjadi faktor utama yang mendongkrak harga CPO. Kondisi ini secara otomatis menekan pembentukan harga produk turunan, terutama minyak goreng curah.
Sejauh ini, minyak goreng menjadi satu-satunya komoditas sembako yang terdampak langsung oleh konflik di Timur Tengah. Selain pengaruh eksternal, kenaikan harga juga dipicu oleh tarikan permintaan ekspor yang tinggi di tengah upaya pemenuhan kebutuhan produksi dalam negeri.
Gunawan memeroyeksikan situasi ini masih akan dinamis mengingat permintaan minyak goreng biasanya mengalami peningkatan tajam menjelang Ramadan hingga H-7 Idulfitri. Karena itu masyarakat diharapkannya mewaspadai pola kenaikan musiman yang berhimpit dengan fluktuasi harga komoditas energi global tersebut.
