ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia kembali mencetak rekor baru di tengah eskalasi agresi militer AS-Israel ke Iran yang makin panas. Pada perdagangan Kamis (4/3), komoditas logam mulia menguat di level $5.172 per ons troy, atau menembus kisaran harga Rp2,8 juta per gram.
Lonjakan harga ini menempatkan emas sebagai aset instrumen aman utama bagi investor di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Meski bursa saham di Asia, termasuk IHSG, menunjukkan penguatan teknikal, volatilitas harga emas dinilai masih terjaga dalam rentang yang tinggi.
"Pergerakan harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi global yang membayangi konflik di Timur Tengah," ungkap Gunawan Benjamin, di Medan.
Jika terjadi perubahan drastis pada harga minyak mentah dunia akibat agresi AS-Israel, harga emas diprediksi akan kembali mengalami guncangan volatilitas. Saat ini volatilitas harga emas relatif terjaga untuk sementara waktu.
Setidaknya hingga ada perubahan besar pada harga minyak mentah dunia yang akan mengubah ekspektasi besaran inflasi ke depan. Pergerakan emas juga didukung oleh tekanan yang terjadi pada indeks dolar AS (USD Index).
Kondisi ini menurut Gunawan secara tidak langsung memberi ruang bagi penguatan mata uang lain. Termasuk Rupiah yang kini ditransaksikan di level Rp16.875 per dolar AS.
Meski demikian, pasar masih akan waspada mengingat tensi agresi AS-Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. AS sendiri memproyeksikan potensi konflik hanya akan berlangsung selama empat hingga lima minggu.
Namun selama periode itu sektor keuangan global diprediksi akan bergerak sangat volatil dengan arah yang sulit diproyeksikan secara akurat. Namun, kenaikan harga emas hingga ke level Rp2,8 juta per gram ini menjadi sinyal kuat.
Bahwa pelaku pasar lebih memilih untuk "pasang badan" menghadapi risiko buruk yang mungkin muncul. Dari pada ketidakstabilan politik internasional dalam jangka pendek.
