Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN – Eskalasi konflik geopolitik yang dipicu agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang masih berlangsung berdampak signifikan pada volatilitas pasar komoditas global.
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memproyeksikan harga emas di pasar domestik berpotensi kembali menembus rekor tertinggi baru seiring dengan ketidakpastian global yang kian meningkat.
Menurut Gunawan, agresi telah menekan pasar energi, yang mana harga minyak mentah jenis WTI kini bertahan di kisaran US$77 per barel, sementara jenis Brent merangkak naik ke level US$84 per barel. Kenaikan harga minyak ini menjadi motor penggerak utama inflasi global.
“Durasi dan eskalasi perang memiliki korelasi langsung terhadap pembentukan harga minyak dunia. Semakin lama perang berlangsung atau bahkan meluas, maka potensi harga minyak untuk bertahan mahal dan cenderung naik akan semakin terbuka lebar,” ungkapnya di Medan, Rabu (4/3).
Gunawan meyakini kenaikan harga minyak akan memaksa bank sentral di berbagai negara mengambil kebijakan moneter yang cenderung hawkish. Kondisi ini membuka peluang kenaikan suku bunga acuan guna meredam beban inflasi dari sektor komoditas.
Namun, kebijakan ini akan menciptakan dilema bagi investor. Di satu sisi, perang memicu akumulasi aset aman (safe haven) seperti emas. Di sisi lain, potensi kenaikan suku bunga dapat mendorong penguatan dolar AS, yang berisiko menggeser minat investor dari emas ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi.
“Ada kemungkinan suku bunga acuan dinaikkan, yang berpotensi menggeser minat investor dari emas ke dolar AS sebagai target investasi selanjutnya. Ini akan terus mendorong penguatan kurs dolar,” katanya.
Gunawan menilai pembentukan harga emas lokal sangat dipengaruhi oleh dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketika harga emas dunia naik, terdapat kecenderungan terjadinya pelemahan rupiah.
Sebaliknya, jika rupiah menguat terhadap dolar AS, harga emas di pasar domestik justru berpeluang untuk naik lebih tinggi.
“Bagi investor yang membeli emas secara fisik di dalam negeri, skenario global ini relatif tidak akan menggoyahkan posisi emas sebagai aset pelindung nilai. Selama perang masih berkecamuk, harga emas memiliki fundamental yang sangat kuat untuk melanjutkan tren kenaikan,” tambahnya.
Gunawan menyarankan agar investor terus memantau eskalasi konflik di Timur Tengah. Pasalnya, perhitungan analis bukan lagi hanya soal seberapa tinggi harga minyak naik.
"Namun seberapa lama level harga tersebut bertahan sebelum akhirnya membebani kinerja mata uang masing-masing negara," pungkasnya.
