Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Rupiah berisiko melemah ke level 16.880 per dolar AS di tengah spekulasi penundaan pemangkasan suku bunga acuan The Fed. Sejauh ini rupiah ditransaksikan melemah ke level 16.865 per dolar AS dan berpeluang bergerak dalam rentang 16.840 hingga 16.880.
Ekonom UISU Gunawan Benjamin menyampaikan spekulasi yang berkembang menunjukkan The Fed masih mungkin menunda pemangkasan bunga acuannya. Dolar AS yang masih menguat disebut menekan kinerja rupiah.
“Spekulasi yang berkembang sejauh ini menunjukan bahwa The Fed masih mungkin untuk menunda pemangkasan bunga acuannya," ungkapnya, di Medan.
Dolar AS sejauh ini masih menguat dan menekan kinerja rupiah di pasar. Pernyataan pejabat The Fed yang menyebut suku bunga acuan bisa saja ditahan sementara waktu turut memicu tekanan terhadap rupiah.
Sementara itu Bank Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Setelah kebijakan BI, pasar akan menanti rilis data ekonomi AS yang menjadi penggerak pasar pada pekan depan.
Tekanan terhadap rupiah disebut akan membebani kinerja IHSG. IHSG berpeluang ditransaksikan dalam rentang 8.170 hingga 8.290.
IHSG pada sesi pembukaan perdagangan hari ini menguat ke level 8.235. Penguatan terjadi di tengah kinerja positif mayoritas bursa di Asia pada perdagangan sejak awal pekan.
Minimnya sentimen penggerak pasar di Asia membuat IHSG berpeluang mengikuti kinerja bursa lain. Pada sisa perdagangan akhir pekan ini, pelaku pasar menanti kebijakan moneter Bank Indonesia, FOMC minutes The Fed serta sejumlah data penting dari AS lain.
Terpisah, harga emas dunia ditransaksikan turun di kisaran US$ 4.897 per ons troy atau sekitar Rp2,66 juta per gram. Harga emas dunia melemah setelah pernyataan pejabat The Fed terkait kemungkinan penahanan suku bunga acuan tersebut.
