Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali muncul setelah sempat mendapat sentimen positif dari kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan penaikan harga BBM Pertamax. Pada perdagangan Kamis (11/6), rupiah melemah ke level Rp17.960 per dolar AS, IHSG keluar masuk zona merah sejak awal sesi perdagangan.
Analis dari Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar masih mencerna dampak kenaikan harga Pertamax sebesar Rp3.950 per liter yang berpotensi mendorong inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, pasar global kembali dibayangi ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS setelah data inflasi tahunan Negeri Paman Sam naik menjadi 4,2% secara tahunan (yoy), sesuai proyeksi pasar.
"Rupiah sempat mendapat dukungan dari kenaikan yield SBN. Namun kondisi global saat ini belum sepenuhnya mendukung penguatan mata uang domestik. Inflasi AS yang masih tinggi membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil, bahkan membuka ruang kenaikan bunga lanjutan," ungkap Gunawan, Kamis (11/6).
Menurut dia, kenaikan harga Pertamax juga ikut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap perekonomian domestik. Penyesuaian harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi daya beli masyarakat, meski di sisi lain dapat membantu memperbaiki beban fiskal pemerintah.
Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun tercatat naik menjadi 7,48%. Angka tersebut mendekati level psikologis 7,6% yang berpotensi menjadi titik tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Kenaikan yield umumnya mencerminkan meningkatnya kebutuhan pemerintah menarik minat investor melalui imbal hasil yang lebih tinggi. Dalam kondisi normal, kenaikan yield dapat mendukung masuknya aliran modal asing dan memperkuat rupiah.
Namun menurut Gunawan, saat ini efek tersebut belum optimal karena investor global masih lebih tertarik pada aset dolar AS yang menawarkan tingkat pengembalian kompetitif.
"Yield US Treasury tenor 10 tahun masih bertahan di kisaran 4,55%, sementara indeks dolar AS berada di level 99,91. Kondisi itu membuat aset berbasis dolar tetap menarik sehingga ruang penguatan rupiah menjadi terbatas," katanya.
Tekanan yang sama juga terlihat di pasar saham. IHSG dibuka melemah ke level 5.899 dan bergerak sangat volatil sepanjang sesi pagi. Pergerakan indeks yang bolak-balik masuk zona hijau dan merah menunjukkan investor masih berhati-hati dalam mengambil posisi.
Mayoritas bursa saham Asia yang bergerak melemah turut memberi sentimen negatif terhadap pasar domestik. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan kebijakan moneter global serta potensi perlambatan ekonomi akibat tingginya suku bunga.
Sementara itu, harga emas dunia kembali mengalami koreksi dan diperdagangkan di kisaran US$4.090 per ons troi atau setara sekitar Rp2,37 juta per gram. Penurunan harga emas terjadi seiring meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Gunawan menilai prospek rupiah dalam jangka pendek masih akan berada di bawah tekanan selama sentimen global belum berubah signifikan. Meski demikian, kenaikan yield SBN berpotensi menjadi bantalan bagi pasar keuangan domestik apabila mampu menarik kembali aliran dana asing ke instrumen obligasi pemerintah.
"Pasar saat ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan inflasi AS, arah kebijakan The Fed, dan kondisi geopolitik global. Karena itu, pergerakan rupiah maupun IHSG masih berpotensi sangat volatil dalam beberapa waktu ke depan," tutupnya.
