Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Rupiah diprediksi kian terhimpit tekanan dolar Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak mentah dunia pada perdagangan hari ini. Tekanan tersebut muncul di tengah penguatan USD Index dan imbal hasil US Treasury, meskipun data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan.
Nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi ini, Kamis (5/2), ditransaksikan melemah ke level 16.765 per US Dolar. Tekanan terhadap Rupiah masih berpeluang meningkat di tengah potensi penguatan dolar AS terhadap mata uang rivalnya serta kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Rupiah masih berpotensi tertekan seiring menguatnya dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu tensi geopolitik,” ujar Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, di Medan.
Tekanan eksternal juga tercermin dari respons pasar global terhadap data ADP Nonfarm Employment Change AS yang melambat menjadi 24 ribu pada Januari atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, USD Index tetap bertahan tinggi di level 97,65 dan imbal hasil US Treasury 10 tahun naik di kisaran 4,279%.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham ditransaksikan melemah pada perdagangan hari ini. Namun IHSG pada sesi pembukaan mampu menguat tipis ke level 8.154,6 meskipun pergerakannya masih kerap masuk ke zona merah.
Minimnya agenda ekonomi di pasar Asia diproyeksikan tidak banyak mempengaruhi pergerakan IHSG. Kinerja IHSG dinilai lebih dipengaruhi oleh berkembangnya sentimen domestik setelah pemerintah merespons kebijakan MSCI (Morgan Stanley Capital International).
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat sejauh ini mendorong harga minyak mentah Brent naik ke level US$68,95 per barel. Di sisi lain, harga emas dunia ditransaksikan melemah di kisaran US$4.983 per ons troy atau sekitar Rp2,7 juta per gram, dengan potensi penguatan yang masih terbatas karena pelaku pasar menanti rilis sejumlah data penting dari AS.
