Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar Rupiah diprediksi bergerak stabil dengan kecenderungan menguat di tengah meredanya tekanan pasar keuangan domestik dan global. Proyeksi tersebut muncul seiring penguatan Rupiah pada sesi pagi dan membaiknya sentimen pasar setelah tekanan sebelumnya mereda.
Rupiah ditransaksikan menguat ke level 16.765 per dolar AS pada sesi perdagangan pagi ini, Selasa (3/2). Penguatan itu terjadi saat imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke level 2,58% dan USD Index tertekan tipis ke posisi 97,46.
“Kinerja Rupiah berpeluang bergerak stabil dengan kecenderungan menguat selama sentimen global dan domestik tidak memburuk,” kata Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, di Medan.
Pergerakan Rupiah tersebut diproyeksikan berada dalam rentang 16.740 hingga 16.780 sepanjang sesi perdagangan hari ini. Stabilitas Rupiah terjadi meski rilis data surplus perdagangan kemarin tercatat lebih rendah dibandingkan realisasi sebelumnya dan tidak banyak mengubah kinerja pasar keuangan.
Dari sisi inflasi, tekanan harga secara tahunan tercatat sebesar 3,55% dan lebih rendah dari proyeksi pasar di kisaran 3,7%. Data surplus perdagangan dan inflasi tersebut dinilai tidak banyak mengubah kinerja pasar keuangan secara keseluruhan.
Pelaku pasar lebih merespons pengunduran diri sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sambil menanti hasil pertemuan antara Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan self-regulatory organization (SRO) Indonesia. Setelah pasar ditutup, muncul kabar positif dari hasil pertemuan tersebut yang setidaknya mampu meredam tekanan di pasar keuangan.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan hari ini sempat melemah ke level 7.888. IHSG masih berada di bawah tekanan meski pertemuan dengan MSCI dinilai menunjukkan progres positif terkait isu free float dan kepastian regulasi secara menyeluruh.
Seiring berjalannya perdagangan, tekanan pada IHSG perlahan mereda dan indeks mulai mencoba diperdagangkan kembali di atas level 7.900. Meredanya tekanan IHSG tersebut turut memperbaiki persepsi risiko terhadap aset keuangan domestik.
Pelaku pasar global juga masih mencermati sikap Presiden Amerika Serikat yang telah menunjuk pengganti Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell. Sikap pasar terbelah, namun masih dengan ekspektasi bahwa kebijakan gubernur baru nantinya akan lebih hawkish dibandingkan dengan harapan Presiden AS.
Dari pasar komoditas, harga emas dunia pada perdagangan pagi ini kembali menguat di kisaran US$4.800 per ons troy atau sekitar Rp2,6 juta per gram. Penguatan emas terjadi di tengah kekhawatiran memburuknya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Secara fundamental, harga emas masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Prospek tersebut terbuka selama ketidakpastian global masih membayangi pasar keuangan.
