google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Imbas Kenaikan Tarif Impor AS, IHSG Terjungkal dan Rupiah Melemah

Advertisement

Imbas Kenaikan Tarif Impor AS, IHSG Terjungkal dan Rupiah Melemah

24 Februari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Pasar keuangan domestik mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (24/2). Indeks Harga Saham Gabungan ditutup merosot tajam sebesar 1,37% ke level 8.280,833, di tengah bayang-bayang kebijakan proteksionisme AS yang memicu guncangan global.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, pelemahan IHSG terjadi secara anomali di saat mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru menunjukkan tren perbaikan. Tekanan jual di pasar modal Indonesia didominasi oleh koreksi pada deretan saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BUMI, BBCA, AMMN, BBRI, hingga GOTO.


"Sentimen negatif utama dipicu oleh langkah Presiden AS yang menaikkan tarif impor global sebesar 15%," ujarnya, di Medan.


Kebijakan proteksionis ini menuai protes keras dari berbagai mitra dagang utama, termasuk Uni Eropa, dan menciptakan ketidakpastian baru pada rantai pasok global. Menurut dia, pasar keuangan masih dihantui ketidakpastian ekonomi pasca-kenaikan tarif tersebut.


Hal ini menambah beban bagi kinerja IHSG yang hari ini juga harus berhadapan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini tercatat melemah ke level Rp16.815 per dolar AS.


"Pelemahan rupiah menjadi faktor pemberat tambahan bagi indeks dalam mempertahankan posisinya di zona hijau," tambahnya.


Selain persoalan tarif, lanjut dia, investor juga mencermati kian meruncingnya tensi geopolitik antara Iran dan AS. Hubungan kedua negara yang berada di ambang pecahnya perang terbuka membuat pelaku pasar cenderung bersikap defensif.


Kondisi ini memberi berkah bagi komoditas emas yang kian diburu sebagai aset aman (safe haven). Saat ini, harga emas dunia ditransaksikan stabil di kisaran US$5.173 per ons troy, atau sekitar Rp2,81 juta per gram.


Peluang harga emas untuk berlanjut menguat sangat terbuka lebar. Terlebih dengan posisi AS yang kian dekat untuk menyerang Iran.


Tensi geopolitik ini berpotensi mendorong harga emas menembus level US$5.300 per ons troy. Kini pelaku pasar global menanti rilis data ekonomi AS, khususnya indeks kepercayaan konsumen bulan Februari yang diproyeksikan akan membaik.


"Data ini diharapkan mampu memberi arah baru bagi pergerakan pasar di tengah tingginya volatilitas global," tutupnya.