google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 HARGA EMAS: Melorot ke Level Rp2,65 Juta Dihantam Kuatnya Sinyal Hawkish The Fed

Advertisement

HARGA EMAS: Melorot ke Level Rp2,65 Juta Dihantam Kuatnya Sinyal Hawkish The Fed

05 Februari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia tertekan akibat menguatnya sinyal kebijakan hawkish The Federal Reserve, Kamis (5/2). Tekanan tersebut muncul seiring ekspektasi pasar terhadap penundaan pemangkasan suku bunga acuan AS.


Emas sebelumnya sempat mendekati level psikologis US$5.100 pada perdagangan kemarin. Harga emas kemudian terkoreksi secara teknikal dan ditransaksikan di kisaran US$4.882 per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram.


“Pernyataan hawkish pejabat The Fed memperkuat spekulasi penundaan pemangkasan suku bunga sehingga menekan harga emas,” kata Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, di Medan.


Pasar kembali berspekulasi bahwa The Fed berpeluang besar menunda pemangkasan suku bunga acuannya. Pelaku pasar masih menanti rilis data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi mengubah ekspektasi tersebut.


Tekanan terhadap harga emas juga dipicu oleh penguatan dolar AS di pasar global. Penguatan dolar didorong oleh lonjakan kinerja USD Index dan kenaikan imbal hasil US Treasury.


Sinyal hawkish turut tercermin dari gambaran calon Gubernur Bank Sentral AS ke depan. Kandidat tersebut dinilai memiliki kecenderungan kebijakan yang lebih bernada hawkish dibandingkan kandidat lainnya.


Ketegangan geopolitik global mendorong investor memburu aset safe haven. Kondisi tersebut justru memperkuat dolar AS terhadap mata uang rivalnya dan menekan harga emas.


Dampak sentimen global tersebut merembet ke pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 0,53% ke level 8.103,87 atau sedikit di atas level terendah hariannya di 8.102.


Pelemahan IHSG sejalan dengan koreksi mayoritas bursa saham di Asia. Sentimen eksternal menjadi faktor utama yang menyeret kinerja pasar saham regional.


Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik merilis data pertumbuhan ekonomi nasional. Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,11% secara kumulatif atau relatif sejalan dengan ekspektasi pasar di kisaran 5%.


Kesesuaian data ekonomi dengan ekspektasi membuat pasar keuangan domestik cenderung mengikuti sentimen global. Faktor eksternal masih menjadi penggerak utama pergerakan aset keuangan.


Tekanan global juga tercermin pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Rupiah ditransaksikan melemah ke level 16.825 per US Dolar.


Pelemahan Rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia serta lonjakan USD Index dan imbal hasil US Treasury. Kombinasi sentimen tersebut memperberat tekanan terhadap mata uang domestik.