ANTARAsatu.com | MEDAN - Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar Rabu (20/5). Rupiah langsung merespons positif dan menguat ke kisaran 17.600 per dolar AS sesaat setelah keputusan tersebut diumumkan.
Langkah itu melampaui proyeksi pasar sebelumnya dan dinilai efektif meredam gejolak nilai tukar secara instan. Namun pertanyaan besar kini muncul, apakah penguatan rupiah ini sudah cukup untuk menghapus ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang selama ini membayangi dunia usaha?
Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai ancaman PHK massal belum sepenuhnya hilang meski rupiah menguat. Hal itu karena kebijakan yang diambil BI merupakan kebijakan moneter yang lebih ditujukan menyetabilkan kondisi ekonomi domestik.
"Sementara akar masalah dari sisi eksternal, yakni ketegangan geopolitik di Timur Tengah, masih tetap menjadi sentimen negatif yang sewaktu-waktu bisa kembali menekan rupiah," terangnya, Kamis (21/5).
Sebelumnya, kekhawatiran PHK massal muncul seiring pelemahan rupiah yang memicu berbagai tekanan di sektor industri. Di antaranya gangguan pasokan bahan baku plastik yang mendorong kenaikan harga dan lonjakan biaya bahan baku industri.
Begitu pula lompatan biaya logistik hingga harga barang yang sudah terlanjur mahal dan sulit dipasarkan. Kondisi itu membuat pelaku usaha was-was terhadap kelangsungan operasional dan tenaga kerja mereka.
Meski BI kini berhasil memulihkan kinerja rupiah melalui kebijakan moneter, tekanan dari sisi eksternal dinilai belum mereda. Lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok global masih berpeluang terjadi ke depan.
Eskalasi konflik berskala lebih besar di kawasan Timur Tengah masih menjadi skenario yang tidak bisa diabaikan. Jika perang kembali pecah dengan skala yang lebih luas, rupiah dinilai masih rentan kembali tertekan.
Bahkan bisa meluas ke tekanan yang lebih dalam jika konflik merembet ke wilayah lain. Dengan masih banyaknya ketidakpastian di pasar global, langkah BI saat ini efektif sebagai peredam jangka pendek.
Namun akar masalah pelemahan rupiah dari sisi eksternal masih menghantui. Berpotensi memaksa BI mengambil serangkaian kebijakan lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
